
Ringkasan Berita
- Menko Zulhas menegaskan swasembada pangan sebagai kedaulatan dan kehormatan bangsa, karena mempengaruhi posisi Indonesia di antara bangsa lain.
- Kolaborasi pemerintah, kampus, dan tokoh agama dinilai krusial untuk merespons persoalan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
- Pemenuhan kebutuhan pangan dan keamanan dijelaskan sebagai landasan hidup tenteram, sesuai dengan perspektif agama dan tanggung jawab negara.
- Pemberantasan korupsi ditekankan sebagai syarat pendukung untuk mewujudkan kesejahteraan dan mencegah kerusakan negara.
- Mahasiswa diajak untuk memiliki keberanian dan kemampuan berpikir kritis sebagai bekal menghadapi tantangan dan menyelesaikan masalah.
Ia menilai kegiatan perguruan tinggi seperti yang digelar Uniska Kediri perlu mendapat dukungan.
Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah daerah dan kampus dapat saling memperkuat dalam merespons berbagai persoalan masyarakat, termasuk ketahanan pangan dan kesejahteraan.
Ketua Umum YBCMP KH Anwar Iskandar menegaskan ketahanan pangan merupakan kebutuhan mendasar bagi keberlangsungan hidup manusia. Menurutnya, kesejahteraan tidak dapat dipisahkan dari kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan.
KH Anwar Iskandar yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan bahwa perhatian terhadap pangan memiliki landasan dalam ajaran agama.
Ia merujuk Surah Quraisy ayat 4 yang memuat pesan mengenai pemberian makanan untuk menghilangkan rasa lapar serta perlindungan dari rasa takut.
Pesan dalam ayat tersebut dikaitkannya dengan tanggung jawab negara dalam memenuhi kebutuhan pangan dan menjamin keamanan rakyat.
Terpenuhinya kedua kebutuhan tersebut menjadi salah satu dasar bagi masyarakat untuk menjalani kehidupan yang tenteram dan membangun kesejahteraan.
Selain persoalan pangan, KH Anwar Iskandar juga menekankan pentingnya pemberantasan korupsi. Ia mengingatkan bahwa praktik korupsi dapat merusak negara dan menghambat pemenuhan kepentingan rakyat.
Karena itu, upaya mewujudkan kesejahteraan harus dibarengi dengan komitmen menjaga integritas dan memberantas korupsi.
Sementara itu, Menko Bidang Pangan Zulkifli Hasan saat memberikan kuliah tamu mengajak mahasiswa dan para undangan melihat persoalan pangan dalam cakupan yang lebih luas.
Ia menempatkan makanan sebagai salah satu bagian untuk melihat kondisi sekaligus kekuatan sebuah bangsa.
“Suatu bangsa dilihat dari apa yang ia makan,” ujar Zulkifli Hasan.
Ia menjelaskan persoalan pangan memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar makanan yang tersaji di piring.
Menurutnya, pangan berkaitan dengan kedaulatan, kehormatan, dan daya saing bangsa.
Karena itu, pemerintah menempatkan swasembada sebagai salah satu hal penting untuk menjaga kemampuan bangsa menentukan masa depannya.
“Swasembada adalah kedaulatan, kedaulatan adalah kehormatan,” tegasnya.
Menurutnya, kehormatan tersebut menyangkut seluruh rakyat Indonesia, termasuk petani, nelayan, dan keluarga yang kehidupannya bergantung pada sektor pangan.
Dengan demikian, swasembada tidak hanya berkaitan dengan kebijakan nasional, tetapi juga dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat dan posisi Indonesia di tengah bangsa-bangsa lain.
Zulkifli Hasan juga menyampaikan apresiasi kepada Uniska Kediri. Menurutnya, penyelenggaraan kuliah tamu tersebut memberikan ruang bagi lingkungan akademik untuk membahas persoalan pangan bersama pemerintah.
Di lingkungan kampus, isu ketahanan pangan dapat menjadi bahan pemikiran bersama yang berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Selain membahas persoalan pangan, Zulkifli Hasan membagikan dua bekal penting untuk meraih keberhasilan, yakni keberanian untuk maju serta kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah.
Keberanian diperlukan sebagai dorongan untuk mengambil langkah dan menghadapi berbagai tantangan.
Sementara itu, kemampuan berpikir kritis membantu seseorang memahami persoalan secara lebih jernih sebelum menentukan solusi.
Kedua bekal tersebut menjadi bagian dari pesan tentang pentingnya kemauan untuk bergerak sekaligus kemampuan dalam menjawab berbagai persoalan. (uji/van)









