Sembilan hari kemudian, pada 31 Juli 2026, keluarga mengabarkan Yurizal telah berpulang, dua hari setelah usianya genap 29 tahun. Pihak keluarga menyebut keterlambatan penanganan sebagai faktor yang memberatkan kondisinya, meski hingga kini otoritas berwenang belum mengeluarkan pernyataan resmi yang memastikan sebab kematian medisnya.
Yang pasti dan tak terbantahkan adalah gelombang kemarahan publik terhadap dua hal sekaligus: layanan kesehatan yang lambat, dan etika sebagian tenaga medis yang tampil tanpa nurani di ruang publik.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menanggapi kasus ini dengan nada prihatin, menyebut setiap kematian, apalagi di usia muda sebagai catatan kegagalan yang harus diperbaiki, sembari mengakui masih ada kekurangan pada fasilitas, alat, dan sumber daya manusia kesehatan.
Kasus Yurizal bukan sekadar tragedi personal. Ia adalah simtom dari persoalan struktural yang jauh lebih besar.










