Pertemuan para Gawais di Ploso, Mojo, Kabupaten Kediri. Foto: Ist
“Zakat saja kalau dihitung, dari 100 juta warga NU, jika 25 juta orang berkomitmen membayar zakat mal secara konsisten sebesar Rp500 ribu hingga Rp1 juta per tahun, nominalnya bisa di atas Rp20 triliun. Angka ini lebih dari cukup untuk membiayai Muktamar setiap tahun atau mendanai setiap PCNU secara mandiri,” paparnya.
Forum Gawagis Nusantara juga menyatakan dukungan agar Muktamar ke-35 NU diselenggarakan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, yang dinilai memiliki kesiapan spiritual dan kultural. Namun, mereka menolak wacana pembatasan unsur Syuriyah serta penerapan zonasi Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) karena dianggap berpotensi mereduksi hak cabang dan mengganggu soliditas ulama.
Di tengah situasi politik nasional, elemen muda NU mengingatkan PBNU agar tetap menjaga jarak dengan kekuasaan.
“Kami menyuarakan hal yang strategis, tidak terjebak pada kontestasi dukung-mendukung figur. Siapa pun pemimpinnya, kami percaya mereka adalah kader terbaik NU. Yang terpenting adalah berjalannya sistem,” kata Gus Rendra.
Gerakan ijtihad jama’i dari wilayah Mataraman ini diharapkan menjadi bola salju yang bergulir ke seluruh Nusantara, membawa harapan agar NU mandiri secara ekonomi, berdaulat secara politik, dan kokoh menjaga tradisi pesantren. (uji/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




