Ilustrasi. Foto: Antara
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Inilah potret angka kemiskinan di empat provinsi pulau Jawa. Yaitu Provinsi Jawa Timur (Jatim), Jawa Tengah (Jateng), Jawa Barat (Jabar) dan Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.
JATIM
BACA JUGA:
- Hari Seni Sedunia 2026, Khofifah Ajak Warga Jatim Jadikan Seni Perekat Sosial
- Daftar Harga Sembako Jawa Timur Terbaru Hari Ini: Cabai Fluktuatif, Ayam Mulai Kondusif
- Update Harga Sembako Jatim Minggu 12 April 2026: Cabai Rawit Turun Lagi, Ayam dan Teri Fluktuatif
- Update Daftar Harga Lengkap Sembako Jatim Jumat 10 April 2026: Cabai Rawit Turun Rp1 Ribu
Angka kemiskinan di Jawa Timur pada Maret 2025 tercatat sebesar 9,50 persen. Ini berarti ada penurunan, meski tak signifikan. Yaitu turun 0,06 persen poin dibandingkan September 2024. Jumlah penduduk miskin pada Maret 2025 sebesar 3,876 juta jiwa, mengalami penurunan dari bulan sebelumnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur memaparkan data terbaru (Maret 2025) angka kemiskinan di Jawa Timur dengan rincian sebagai berikut:
Persentase Penduduk Miskin: 9,50 persen (Maret 2025).
Jumlah Penduduk Miskin: 3,876 juta orang (Maret 2025).
Angka kemiskinan di Jawa Timur mengalami penurunan 0,06 persen poin dari September 2024.
Data ini menggunakan pendekatan kebutuhan dasar atau Cost of Basic Needs (CBN) dan Multidimensional Poverty Index (MPI) untuk mengukur kemiskinan dari berbagai aspek, seperti pengeluaran, akses pendidikan, kesehatan, dan kualitas hidup.
JATENG
Berdasarkan data BPS, persentase penduduk miskin di Jawa Tengah pada Maret 2025 sebesar 9,48 persen. Ini juga mengalami penurunan meski juga tak signifikan. Yaitu turun 0,10 persen poin dibanding September 2024 yang mencapai 9,58 persen.
Lalu berapa jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah? Berdasarkan data BPS jumlah penduduk miskin di Jateng pada Maret 2025 sebanyak 3,37 juta orang. Jadi turun 29,65 ribu orang dibanding September 2024.
JABAR
Angka kemiskinan di Jawa Barat per Maret 2025 sebesar 7,02% atau 3,65 juta jiwa. Ini juga menunjukkan penurunan meski tak signifikan. Yaitu sebesar 0,06 poin dari periode September 2024.
Namun meskipun angka keseluruhan menurun, jumlah penduduk miskin di wilayah perkotaan justru mengalami kenaikan.






