Jutaan umat Islam melakukan thawaf di Ka'bah Makkah. Ilustrasi. Foto: viva.co.id/mch 2020/susanto
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Saya membaca status seorang teman yang sinis terhadap rakyat Indonesia yang makin bergairah naik haji dan umroh. Menurut dia, umat Islam yang naik haji dan umroh itu HANYA memperkaya pemerintah Arab Saudi.
Teman saya itu terus memprovokasi di media sosial dengan narasi-narasi sinis dan penuh kebencian. Bahkan mereka mengatakan bahwa tanah suci itu ya nusantara. Bukan Makkah Madinah.
BACA JUGA:
- Tafsir Al-Hajj 32-33: Haji Naik Sepeda Ontel
- Pastikan Tepat Waktu, Kemenhaj Kawal Ekspor Perdana 100 Ton Bumbu Pasta dan RTE Haji 2026
- Pemerintah Buka Ekspor Bumbu dan RTE Haji 2026, UMKM Indonesia Tembus Rantai Pasok Global
- Kemenhaj Ingatkan PPIU Taat Aturan dalam Tangani Jemaah Umrah yang Terdampak Eskalasi Timur Tengah
Saya kasihan pada teman saya itu. Karena dia tak paham bahwa semakin rakyat Indonesia bergairah naik haji dan umroh justru semakin membantu dan menguntungkan pemerintah Indonesia secara ekonomi.
Lihat saja berapa triliun Dana Abadi Umat (DAU) yang dikelola Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) hingga 2024. Juga berapa triliun dana umat Islam yang naik haji dan umroh masuk ke kas negara dalam pengurusan dokumen, visa, transportasi, pengadaan konsumsi, pakaian seragam, dan lain sebagainya
Alahsil, secara faktawi jelas sekali bahwa pelaksanaan ibadah haji dan umrah menjadi salah satu soko guru devisa negara. Dan semuanya, sekali lagi, masuk kas negara.
Ini berarti bahwa kontribusi Islam terhadap negara luar biasa. Bayangkan, dari sektor ibadah saja, umat Islam telah memberikan kontribusi sangat besar terhadap negara. Belum lagi perjuangan yang lain.
Yang juga perlu diingat, bahwa banyaknya umat Islam naik haji dan umroh otomatis mengungkit pertumbuhan ekonomi swasta. Salah satu contoh keberadaan travel haji dan umrah serta pelayanan haji dan umrah lainnya.






