Dr (HC) KH Afifuddin Muhajir. Foto: M Mas'ud Adnan/bangsaonline
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Memasuki bulan Rabi’ul Awal, mayoritas Umat Islam Indonesia bersiap-siap menggelar peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Peringatan ini lazim disebut Maulid Nabi Muhammad. Atau cukup maulid nabi atau maulid saja.
Umumnya maulid itu dirayakan dengan berbagai cara. Sesuai budaya daerah masing-masing. Ada kalanya dimeriahkan dengan sedekah uang, makanan, dan minuman. Namun ada juga yang digelar dengan perayaan rebutan buah. Bahkan juga ada kalanya digelar dengan arak-arakan yang sangat meriah.
BACA JUGA:
- Sudah Shalat Witir saat Tarawih, Apa Perlu Shalat Witir Lagi usai Shalat Tahajud dan Shalat Hajat?
- Ramadan Momentum Keluarga, Lia Istifhama Ajak Orang Tua Bangun Kedekatan Emosional dengan Anak
- Kiai Asep: Muhammadiyah juga Aswaja, Mereka Pilih PAN, yang Pro Khilafah Pilih PKS
- Maulid Nabi di Ponpes Nurul Qodim Probolinggo, Gubernur Khofifah: Santri Pewaris Kepemimpinan Umat
Hanya saja ada satu acara utama dalam Maulid Nabi. Bahwa setiap peringatan Maulid Nabi selalu ada pembacaan Salawat Nabi Muhammad. Itulah inti perayaan Maulid Nabi Muhammad.
Bahkan kadang juga dilengkapi dengan taushiah ulama atau kiai. Pesan-pesan keagamaan agar bisa meneladani perilaku dan akhlak Nabi Muhammad SAW.
Meski demikian, kelompok Islam formalis - seperti penganut Wahhabi yang ada di Indonesia - menentang keras peringatan Maulid Nabi. Kenapa? Mereka beralasan Maulid Nabi itu tak ada dalilnya.
Nah, Dr (HC) KH Afifuddin Muhajir, Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur mempertanyakan balik.






