Senin, 14 Oktober 2019 18:56

Lestarikan Batik Madura, Sekolah di Arjasa Sumenep Jadikan Batik sebagai Muatan Lokal

Jumat, 08 Mei 2015 17:18 WIB
Lestarikan Batik Madura, Sekolah di Arjasa Sumenep Jadikan Batik sebagai Muatan Lokal
Salah satu batik karya siswa SMPN 1 Arjasa Sumenep. (faisal/BANGSAONLINE)

SUMENEP, BANGSAONLINE.com - Semangat warga kepulauan untuk menjaga tradisi membatik di Sumenep terus dikembangkan. Bahkan, untuk menjaga tradisi nenek moyangnya, sejumlah warga terus mengajari anak cucu mereka sejak dini.

Pemahaman membatik yang diberikan tersebut tidak mengenal tempat, bahkan saat ini di wilayah Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean telah dimasukkan kedalam materi muatan lokal (Mulok) di berbagai sekolah negeri. Salah satunya yang diajarkan di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Arjasa, Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean.

Anak didik di sekolah plat merah itu, mulai dididik dan dibiasakan membatik sejak baru masuk sekolah. Bahkan saat ini sudah banyak siswa yang mahir melukis kain dengan berbagai macam motif.

”Kami diajari membatik mulai baru masuk ke sekolah, karena pelajaran tersebut termasuk kurikulum di sekolah kami,” kata siswa kelas IX SMPN I Arjasa Anisa Nurul Fahmi Qorina.

Menurutnya, pelajaran membatik tidak hanya diberikan pada siswa atau kelas tertentu saja, melainkan diberikan pada semua siswa. Sehingga pelajaran membatik, dapat diserap oleh semua siswa, serta menjadi pelajaran favorit karena diyakini dapat menampung luapan imajinasi siswa pada selembar kain.

Meski materi pelajaran membatik hanya diberikan satu kali dengan jangka waktu dua jam selama seminggu, namun karena guru pembimbingnya sangat telaten, para siswa dapat menerima pelajaran itu dengan cepat. Sehingga siswa di SMPN I Arjasa, sudah bisa meluapkan emosinya lewat karya batik tulis, serta sudah bisa membuat corak atau motif sendiri.

”Karena menyesuaikan dengan jadwal pelajaran di sekolah, pelajaran membatik diberikan 1 minggu 2 jam, jadi waktunya memang tidak banyak untuk pelajaran membatik,” kata guru pembimbing bidang seni dan budaya SMPN I Arjasa Pardi,

Namun begitu, dalam setiap minggunya siswa dapat menghasilkan 1 karya batik ukuran kecil ukuran sapu tangan. Sehingga dalam sebulan SMPN Arjasa dapat menampung batik karya siswa sebanyak 160 lembar batik ukuran sapu tangan.

Disinggung mengenai biaya untuk pembuatan batik, Pardi mengaku hasil patungan para siswa, karena sekolah memang tidak menyediakan anggaran untuk materi tersebut. Sementara untuk pemasaran batik karya siswa tersebut, dilakukan secara manual atau dijual secara door to door ke sekolah lain yang ada di pulau Kangean.

”Kami masih dalam proses pembelajaran, jadi belum bisa memproduksi secara massal. Tapi mudah-mudahan nanti bisa memproduksi dalam jumlah besar, kita berharap saja,” imbuhnya.

Sedangkan motif batik yang diajarkan bagi para siswa, adalah motif flora, dan fauna sebagai ciri khas pulau Kangean, yang dikelilingi lautan. Tidak hanya itu, siswa SMPN Arjasa memiliki motif khusus dalam membatik, yakni ayam bekisar, yang akan menjadi ikon batik pulau kangean, yang terkenal dengan nama pulau cukir.

Sementara peralatan yang digunakan para siswa dalam membatik, didatangkan dari Solo Jawa Tengah. Sehingga siswa yang akan membatik tidak kebingungan mencari peralatannya, karena sekolah sudah menyediakannnya.

Kepala Sekolah SMPN I Arjasa Suryoadi mengatakan, dimasukkan pelajaran membatik di sekolahnya itu, merupakan salah satu upaya untuk terus menjaga agar budaya membatik di pulau madura ini tetap dilestarikan. Selain itu, juga setelah anak didiknya sudha lulus nantinya bisa dijadikan modal usaha home industri.

”Ini merupakan modal dasar bagi para siswa, untuk mengembangkannya nanti ketika sudah berkeluarga, syukur-syukur para siswa nantinya bisa membuka sentra batik khas pulau Kangean, kan bisa membuka lapangan kerja,” papar Suryoadi.

Pihaknya berharap, dengan metode pembelajaran membatik disekolah, pemerintah atau instansi terkait dapat lebih memperhatikan untuk membantu melestarikan batik, terutama dari segi permodalan.

Terpisah Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep, A. Shadik menyatakan, kesenian membatik memang sudah masuk mulok (muatan lokal) sejak lama. Mulok tersebut sudah menjadi ciri khas masing-masing daerah, dimana lembaga tersebut berada.

”Kami senang bila generasi muda sudah banyak yang pandai membatik, sehingga para siswa nantinya, bisa mencari penghasilan dari karya-karyanya," terangnya. (fay/rvl)

Bandeng Jelak Khas Kota Pasuruan yang Tinggi Protein, Yuk Makan Ikan!
Minggu, 28 April 2019 01:01 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Kali ini Shania Indira Putri, Duta Gemarikan Kota Pasuruan, melihat lebih dekat bagaimana proses pemanenan ikan Bandeng Jelak khas Kota Pasuruan. Sekali panen, ikan ini air tawar ini bisa menghasilkan 600 hingga 120...
Minggu, 13 Oktober 2019 23:15 WIB
BOJONEGORO, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur memiliki wisata unik berbasis minyak dan gas bumi (Migas), tepatnya di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro.Di desa ini terdapat ratusan sumur minyak tua peninggal...
Senin, 14 Oktober 2019 10:04 WIB
Oleh: M Mas’ud Adnan*Rayap, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesa (KBBI), mengandung dua arti. Pertama, rayap adalah serangga (seperti semut) berwarna putih tidak bersayap. Kedua, rayap berarti orang yang mengeruk kantong orang lain.Dalam berbagai ...
Minggu, 06 Oktober 2019 22:56 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*70. Walaqad karramnaa banii aadama wahamalnaahum fii albarri waalbahri warazaqnaahum mina alththhayyibaati wafadhdhalnaahum ‘alaa katsiirin mimman khalaqnaa tafdhiilaan.Dan sungguh, Kami telah memuliakan ...
Minggu, 22 September 2019 14:08 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...