Minta PBNU Pertimbangkan Kemaslahatan, ​Kiai Asep: Jangan Paksakan Majukan Muktamar NU

Minta PBNU Pertimbangkan Kemaslahatan, ​Kiai Asep: Jangan Paksakan Majukan Muktamar NU Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A. Foto: MMA/ BANGSAONLINE.COM

MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, M.A., minta agar tidak memaksakan kehendak memajukan pelaksanaan ke-34 di Lampung dengan cara memajukan jadwal. Pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur itu juga minta agar panitia ke-34 memaksimalkan persiapannya agar bisa melayani warga NU yang bakal datang dari berbagai penjuru nusantara.

“Pertimbangan utamanya harus kemaslahatan. Bukan kepentingan kelompok. Apalagi hanya kepentingan calon Rais Am dan calon ketua umum,” kata Saifuddin Chalim kepada BANGSAONLINE.com, Sabtu (20/11/2021).

“Kondisi seperti sekarang kok mau memajukan jadwal Muktamar. Hargailah kinerja pemerintah yang telah berusaha menangani pandemi Covid-19,” kata

Apalagi, kata , jalan menuju lokasi pembukaan sangat sempit. Menurut dia, seharusnya waktu penundaan itu dimanfaatkan panitia untuk memperlebar jalan tersebut. 

Ia menduga, keinginan untuk memajukan jadwal itu bagian dari akal-akalan dan mengada-ada. “Sangat tidak rasional dan tidak pantas. Apalagi disampaikan Rais Am,” kata .

Menurut , jika memaksakan kehendak memajukan jadwal , bisa jadi warga NU semakin curiga terhadap isu booking hotel oleh oknum Kemenag tempo hari. “Kan bisa saja warga NU makin curiga. Mereka bisa saja berpikir. O berarti berita itu benar. Mereka pasti mengira takut uang DP-nya hangus,” katanya.

Meski demikian, minta agar tanggal pengunduran pelaksanaan ke-34 itu harus diputuskan. "Misalnya tanggal 31 Januari. Harus segera ditetapkan. Atau bisa saja dua bulan kemudian. Harus segera ditetapkan," katanya.

juga minta agar panitia mengarahkan peserta Muktamar tidur di penginapan biasa, di tengah masyarakat.  "Ini untuk menghindari fitnah booking hotel itu," katanya. Menurut , pelaksanaan Muktamar harus di pesantren sekaligus untuk mempertahankan budaya yang sudah berlangsung hampir satu abad. 

minta panitia Muktamar mencari penginapan yang menguntungkan secara ekonomi penduduk di sekitar arena sehingga manfaat NU itu benar-benar dirasakan rakyat secara umum dan rahmatan lil'alamin.

Seperti diberitakan BANGSAONLINE.com, kini terjadi tarik-menarik soal wacana penundaan ke-34 di Lampung Sumatera Selatan (Sumsel). Sekjen Helmy Faishal Zaini menyatakan pelaksanaan ditunda, tapi Rais Am Syuriah KH Miftahul Achyar justru ingin memajukan pelaksanaan .

"Sesuai amanat dan itu sudah putusan Munas, muktamar diselenggarakan pada tahun 2021," kata Kiai Miftahul Achyar, Kamis (18/11).

Alasannya, hal itu merupakan keputusan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar NU, September 2021 lalu.

Menurut Kiai Mif – panggilan Miftahul Akhyar, sebenarnya muncul dua opsi waktu pelaksanaan muktamar. Yang pertama yakni memajukan, sedangkan yang kedua mundur pada tahun 2022 yang akan datang. Namun, Kiai Mif mengaku memilih waktu yang lebih dini.

Simak berita selengkapnya ...