Istri Dokter Terserang Kanker, Dapat Tambahan Umur 5 Tahun Berkat Ikthtiar Obat TKI

Istri Dokter Terserang Kanker, Dapat Tambahan Umur 5 Tahun Berkat Ikthtiar Obat TKI Dahlan Iskan. foto: ist

SURABAYA, BANGSAONLINE.com -Ternyata istri dokter juga tak luput dari serangan kanker. Setidaknya, inilah yang dialami Evie Ratsmawati, istri Prof Dr Soehartono DS, ahli kandungan terkemuka Surabaya. Namun dr Soehartono bersyukur karena istrinya meninggal setelah “dapat tambahan umur 5 tahun”.

Maksudnya? Silakan simak tulisan Dahlan Iskan, wartawan terkemuka, di Disway, HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com hari ini, Selasa 22 Juni 2021. Selamat membaca:

SANG suami akhirnya bisa menerima sang istri pergi. Selamanya. "Setidaknya kami telah merasa mendapat tambahan umur 5 tahun," ujar Prof Dr Soehartono DS, ahli kandungan terkemuka Surabaya.

Sang istri, Evie Ratsmawati, meninggal dunia Minggu dini hari kemarin –akibat kanker paru. Usianyi 66 tahun– sembilan tahun lebih muda dari suami.

Bagaimana seorang penderita kanker paru stadium 4 bisa bertahan selama lima tahun? "Itu karena obat Tyrosine Kinase Inhibitor," ujar sang suami. Itulah obat penahan berkembangnya kanker.

Yang ia juga bersyukur adalah: selama lima tahun terakhir itu kualitas hidup sang istri tidak menurun. Tetap bisa main tenis. Melakukan umrah yang ke-8. Jalan-jalan ke Eropa. Juga ke Amerika. Ke Tiongkok. Ke Canada. Ke mana saja. "Kami tidak seperti orang sakit," ujar dokter yang biasa saya panggil Mas Ton.

"Terus terang saja, saya ingin menyenangkan istri saya semaksimal mungkin," katanya.

Awalnya di tahun 2016. Suami-istri ini melayat sejawat mereka: Prof Dr Herlin Megawe. Sang istri batuk-batuk. Di bawalah ke dokter. Lalu dicarikan second opinion ke Singapura. Benar. Kanker paru. Langsung stadium 4.

Saat itu obat TKI (Tyrosin Kinase Inhibitor) sudah ditemukan. Bahkan generasi ke-2 nya baru saja ditemukan. Maka Evie meminum TKI generasi dua. Bentuknya pil. Diminum tiap hari.

Itu bukan obat untuk membunuh kanker. Tugasnya hanya menghambat pertumbuhan sel kanker.

Sekarang ini berbagai macam kanker bisa dihambat oleh TKI. Ada satu jenis TKI yang bisa untuk beberapa jenis kanker. Tapi ada juga kanker yang memerlukan TKI-nya sendiri.

"Untuk kanker ovarium memakai bevacizumab. Itu untuk menghambat pembentukan pembuluh darah ke sel kanker ovarium," ujar Dr. dr. Brahmana, ahli kanker servik yang juga ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya.

Sambil mengonsumsi obat tersebut, kata Brahmana, tetap harus dicari jalan untuk membunuh sel kankernya. Salah satu caranya lewat kemoterapi. Atau radiasi. Atau operasi. Atau kombinasi.

Kelemahan obat tersebut mirip obat lainnya: lama-lama penyakit itu mengenal obat tersebut. Lalu kebal. Lalu melakukan mutasi. Lalu berkembang lagi.

Itu pula yang dialami Evie Suhartono. Setelah dua tahun mengonsumsi TKI generasi 2, kankernya kebal. Tanda-tanda berkembang muncul lagi. Obat yang sama tidak mempan lagi.

"Untungnya saat itu ditemukan TKI generasi ke-3," ujar Mas Ton. Maka sang istri diberi obat generasi baru itu. Manjur. Kualitas hidup tidak sampai menurun. Aktivitas sehari-hari berjalan normal.

Dua tahun kemudian, dua minggu lalu, obat baru itu tidak manjur lagi. Kankernyi sudah kenal obat itu. Sudah kebal. Lalu kembali berkembang. Evie masuk rumah sakit. Obat TKI generasi 4 belum ditemukan. Mungkin tidak lama lagi. Tapi Evie lebih dulu menemui takdirnyi.

"Sekarang saya harus belajar hidup sendiri. Selama ini saya sangat tergantung istri," ujar Mas Ton. Sampai pun yang menyiapkan sikat gigi dan celana dalam, istri. Ia juga tidak tahu punya uang berapa. "Tahu saya ya berapa yang ditaruh istri di dompet saya," katanya.

Mereka punya tiga anak. Laki semua. Yang dua jadi dokter –ahli kandungan semua. Satunya memilih bidang bisnis.

Seberapa tertekan selama lima tahun mengidap kanker stadium 4? "Istri saya tidak tertekan. Sama sekali. Dia tipe wanita yang tidak pernah mengeluh. Agamanya kuat sekali," katanya.

Simak berita selengkapnya ...