Sabtu, 08 Mei 2021 20:24

Loh, Positif Covid-19 setelah Vaksin Sinovac, Dahlan Iskan: Jangan Panik

Selasa, 09 Maret 2021 06:36 WIB
Editor: mma
Loh, Positif Covid-19 setelah Vaksin Sinovac, Dahlan Iskan:  Jangan Panik
Dahlan Iskan.

SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Ternyata banyak orang – bahkan pejabat - yang justru positif Covid-19 setelah vaksin sinovac. Loh? Kenapa? Lalu apa manfaat vaksin?

Nah, tulisan Dahlan Iskan pagi ini, Selasa, 9 Maret 2021, menjawab pertanyaan-pertanyaan gundah itu. Tulisan wartawan kondang yang pagi ini dimuat Disway dan HARIAN BANGSA itu kami sajikan untuk pembaca BANGSAONLINE.com, yang terus meluas di seluruh nusantara dan luar negeri. Selamat membaca:

SAYA menerima WA dari Indri, kemarin. Ia aktivis sosial. Pernah jadi sekretaris Federasi Barongsai Indonesia. Anak tunggalnya belum lama jadi dokter.

"Saya terkena Covid, 3 Maret lalu. Padahal saya sudah menjalani vaksinasi suntikan kedua tanggal 23 Februari," tulisnyi.

BACA JUGA : 

Ketika Surat Kabar The Straits Times Singapura Jadi Lembaga Not For Profit

​Ekonomi Triwulan Pertama 2021 Minus, Covid Varian Baru juga Mencemaskan

​Melaju Tanpa Pengemudi, Pemilik Tesla itu Mungkin Dokter Bonek

Heboh Putri AM Fatwa Bakal Bersuami Bule Kristen, Warganet Salfok Foto

Tentu Indri tidak sendiri. Gubernur Jabar Ridwan Kamil menjelaskan, bupati dan wakil bupati Ciamis juga terkena Covid. Padahal sudah menjalani vaksinasi kedua. Demikian juga bupati Serang Hj Ratu Tatu Khasanah.

Tentu saya tidak kaget.

Kita sudah tahu afikasi vaksin Sinovac itu 65 persen. Artinya: dari 100 orang yang divaksin ada kemungkinan yang 35 orang tidak berhasil. Yakni tidak berhasil memiliki anti-virus Covid-19.

Sebenarnya itu juga tidak apa-apa kalau saja semua orang sudah menjalani vaksinasi. Yang 65 orang itu tidak akan tertular dan tidak akan menularkan. Dengan demikian yang 35 orang tadi ikut terbawa aman. Itulah prinsip herd immunity. Meski ada 35 orang yang tidak punya antibodi mereka tidak lagi bahaya.

Saya pun bertanya pada Indri: level Covidnya berapa?

Dia pun menjawab: 33.

"Gak usah panik," kata saya. "Itu mirip dengan tidak kena Covid," kata saya lagi. Dia tahu saya bukan dokter. Kata-kata saya itu lebih bersifat menghibur.

Indri sendiri sebenarnya tidak tahu kalau dia kena Covid. Tidak tidak merasakan sedikit pun gejala-gejala Covid. Tidak demam. Tidak batuk. Tidak sesak napas. Dan tidak kehilangan rasa.

Dia baru tahu kalau terkena Covid belakangan. Yakni dari sikap hati-hatinyi. Dia merasa baru saja bersama teman yang terkena Covid. Dia harus rapid test: negatif. Dia masih harus hati-hati: melakukan rapid antigen. Juga negatif. Lalu menjalani PCR: positif 33.

Indri buru-buru foto paru-paru: bersih. Tapi ia tetap isolasi diri di sebuah hotel. Anaknyi yang tiap hari mengantar segala macam keperluan. Gantian. Ketika anaknyi dulu terkena Covid, sang ibu yang jadi tukang antar segala macam keperluan isolasinya.

Walhasil, tidak usah panik kalau mendengar orang yang sudah vaksinasi masih terkena Covid. Mungkin mereka itu terlalu percaya diri. Itu wajar. Ekspektasi orang sama: begitu menjalani vaksinasi kedua, harusnya bisa langsung berteriak MERDEKA!

Tidak begitu.

Begitu suntikan kedua melewati hari ke 14 sebaiknya memang tes: apakah "saya'' tergolong 65 persen atau masuk yang 35 persen.

Teman-teman saya banyak yang tidak sabar. Baru satu minggu sudah tes. "Sudah muncul sih, tapi baru 7," katanyi. "Teman saya bahkan hanya 2," tambahnyi. "Tapi teman saya lainnya ada yang 37, ada juga yang 136," katanyi. "Ada satu yang masih nonreaktif," katanyi pula.

Begitulah. Vaksinnya sama: Sinovac. Tapi badan orang berbeda-beda. Termasuk cara badan merespons vaksin tersebut.

Munculnya perasaan ''sudah vaksin, sudah aman'' tidak bisa dibendung. Sama dengan orang yang sudah berhasil menjalani transplant ginjal atau liver. Mereka cepat-cepat ingin ''show-diri'. "Ini lho saya bukan orang sakit lagi". Atau "ini lho, saya sudah vaksinasi".

Bisa jadi Indri terlalu awal bertemu temannyi yang terkena Covid itu. Ia baru 10 hari melewati suntikan kedua. Maka dia masih bisa tertular.

Kini Indri sudah negatif. Berarti dia sudah punya imunitas. Hanya saja dia akan bingung: munculnya imunitas itu karena vaksin atau karena terkena Covid?

Dalam kasus saya, saya tidak bingung. Saya kan juga memiliki kekebalan ganda. Anti Covid-19 saya itu dari dua sumber sekaligus. IgG dan IgM saya reaktif semua –dengan nilai yang di atas 2.000. Itu menandakan bahwa kekebalan saya muncul dari dua sumber. Yang pertama dari transfusi plasma konvalesen. Yang kedua dari Covid yang menyerang saya.

Waktu itu dokter di RS Premier Surabaya memang bertindak cepat. Yakni setelah terkena Covid lewat satu minggu badan saya belum mengeluarkan antibody. Maka di hari ke-8 dokter memberi saya transfusi plasma konvalesen. Dua hari kemudian antibodi saya muncul. Yang dari konvalesen itu. Eh, lima hari kemudian muncul pula antibodi yang dari tubuh sendiri–akibat terserang Covid.

Semua orang harus vaksinasi. Tapi juga harus siap mental untuk tergolong yang 35 persen.

Maka mengendalikan perasaan ''Merdeka!'' setelah vaksinasi begitu penting. Apalagi kalau belum hari ke-14.

Tapi dalam kasus Indri –terkena Covid di level 33– memang menarik. Apakah seandainya belum vaksinasi, level Covidnya juga sebaik itu. Maka saya jadi ingin tahu berapa level Covid yang menimpa bupati dan wakil bupati Ciamis itu. Juga yang menimpa Bupati Serang itu.

Ternyata sama dengan Indri. Bupati Serang Hj Ratu Tatu Khazanah juga tidak merasa terkena Covid. Setelah dicek ternyata level Covid-nya 35. Ketika dicek lagi sudah naik jadi 39. Jumat lalu sudah negatif.

Sedang Bupati Ciamis Dr Herdiat Sunarya sama dengan wakilnya: di level 29 –sama dengan saya dulu. Dua-duanya segera negatif. (*)

Awal Mula Tarawih Cepat di Ponpes Hidayatullah Al Muhajirin Bangkalan
Jumat, 07 Mei 2021 23:44 WIB
BANGKALAN, BANGSAONLINE.com - Ada fenomena yang selalu viral setiap Bulan Ramadan, yakni Salat Tarawih Cepat. Jika di Indramayu ada pesantren yang menuntaskan salat tarawih 23 rakaat dalam durasi hanya 6 menit, di Bangkalan juga ada pesantren ya...
Jumat, 16 April 2021 16:59 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Banyuwangi memiliki cara menarik untuk memelihara infrastruktur fisiknya. Salah satunya, dengan menggelar festival kuliner di sepanjang pinggiran saluran primer Dam Limo, Kecamatan Tegaldlimo be...
Sabtu, 08 Mei 2021 09:36 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Genre baru persuratkabaran dimulai dari Singapura. Koran terkemuka di negeri singa itu mengubah diri menjadi not for profit. Perubahan drastis ini dilakukan setelah mengalami kemerosotan yang terus terjadi.Tapi apa beda...
Rabu, 28 April 2021 14:16 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*61. falammaa balaghaa majma’a baynihimaa nasiyaa huutahumaa faittakhadza sabiilahu fii albahri sarabaanMaka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengamb...
Sabtu, 08 Mei 2021 11:38 WIB
Selama Bulan Ramadan dan ibadah puasa, rubrik ini akan menjawab pertanyaan soal-soal puasa. Tanya-Jawab tetap akan diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) d...