“Kalau dibuka tahun berapa saya gak tahu pastinya, kira-kira dari tahun 1800-an. Mbahnya papi, generasi pertama dulu jualan muter-muter dulu baru dapet tempat ini, ya sampe sekarang ini. Dulu mbahnya papi aslinya Tiongkok, dapet orang Jawa. Nah, kalau Pak Man ini, dari dulu jadi juru masak di sini, dari generasi papi,” ujar Untung, saat ditemui di kedainya yang ramai dengan pesanan luar kota, Kamis (6/12/2018).
Suasana ramai terasa, ketika weekend dan hari libur, mulai pukul 08.00 wib, sudah banyak antrean menunggu. Puncaknya, sekitar pukul 11.00 adalah saat di mana pelanggan antri dan berdesakan untuk mendapatkan lumpia. Lelah dan penatnya menanti, seakan terobati ketika seonggok lumpia terkunyah dalam mulut.
Kres.... lezatnya seakan menembus pori-pori lidah, mengirim rasa tak terkira dalam otak, dan menjadikan tubuh seakan bugar kembali.
Di kedai berukuran sekitar 4x5 meter persegi ini, terpampang berbagai mulai dari surat kabar dan mendapatkan rekomendasi dari TripAdvisor, Amerika.










