Siswa pingsan saat dibopong keluar dari saf salat Kusuf berjamaah. (foto: rahmatullah/ BANGSAONLINE)
SUMENEP, BANGSAONLINE.com – Ratusan warga Kabupaten Sumenep memadati jalan lingkar timur di Desa Kolor, Kecamatan Kota, Rabu (9/3), yang sudah ditutup sejak pagi. Mereka tidak mau melewatkan gerhana matahari total yang jarang terjadi.
Bupati Sumenep, A. Busyro Karim, bersama Wakil Bupati Sumenep, Ahmad Fauzi, juga terlihat antusias bersama warga menyaksikan fenomena alam langka itu.
BACA JUGA:
- BMKG: Madura Masih Dilanda Musim Kemarau, Nelayan Diminta Waspadai Gelombang Tinggi
- Angkut Penumpang dengan Pikap Masih Marak di Sumenep, Keselamatan Jadi Sorotan
- Harga Garam di Gili Raja Sumenep Turun Saat Musim Produksi Mulai Ramai
- 1.356 CJH Sumenep Berangkat ke Tanah Suci, Wabup Ingatkan Cuaca Ekstrem di Makkah
Warga yang datang mendapatkan kacamata khusus yang bisa digunakan melihat matahari dari kantor Pemkab. Meski tidak kebagian semua, warga tampak senang, karena bisa melihat gerhana matahari secara bergantian.
Pantauan BANGSAONLINE.com, matahari di wilayah Kabupaten Sumenep tidak sepenuhnya mengalami gerhana. Matahari terlihat seperti bulan sabit tanggal tiga. Hanya tersisa sedikit yang memancarkan sinar.
Setelah puas melihat gerhana matahari, masyarakat melakukan salat Kusuf berjama’ah. Tak terkecuali para siswa yang mengisi hari libur ikut salat Kusuf berjama’ah. Saat salat itulah, seorang siswa SMA langsung pingsan. Kontan saja hal itu membuat petugas penik, dan langsung membopong siswa tersebut keluar dari saf agar tidak mengganggu kekhusukan jama’ah lain.
Bupati Sumenep, A. Busyro Karim memaparkan, bahwa sudah saatnya masyarakat cerdas merespon fenoma alam. Katanya, gerhana matahari tidak ada kaitannya dengan mitos, tapi itu merupakan gejala alam yang bisa ditelaah secara ilmiah.
“Semoga dengan adanya fenoma alam ini, ketaqwaan kita kepada Tuhan semakin meningkat,” ujarnya singkat kepada awak media.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




