SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Kepedulian Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, terhadap para tokoh dan kiai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) sangat tinggi. Setelah sukses memperjuangkan ayahandanya, KH Abdul Chalim, sebagai pahlawan nasional, Kiai Asep memperjuangkan KH Muhamamd Yusuf Hasyim Tebuireng dan KH Abbas bin Abdul Jami Buntet Cirebon sebagai pahlawan nasional. Semua persyaratan Kiai Muhammad Yusuf Hasyim dan Kiai Abbas sudah rampung dan bahkan memenuh syarat (MS). Tinggal menunggu pengumuman dari presiden.
Sekarang Kiai Asep mendorong KH Hasan Gipo sebagai calon pahlawan nasional. Hasan Gipo adalah Ketua Umum PBNU pertama (1926-1934) yang mendampingi Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar NU.
“Untuk penyusunan bukunya nanti saya bantu,” ujar Prof Kiai Asep Saifuddin Chalim dalam acara sarasehan NU di Hotel KHAS Surabaya, Sabtu 26 September 2026.
Menurut dia, biaya penyusunan buku itu cukup besar. Bisa mencapai Rp 1,5 miliar. Karena selain melibatkan para ahli sejarah juga harus mencari data-data primer di berbagai tempat.
“Monggo (penyusunannya) di tempat saya. Karena ada Prof Usep, Mas Yahya dan Mas Zubair,” ujar pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto itu.
Yang dimaksud Prof Usep adalah Prof Usep Abdul Matin, PhD, guru besar sejarah dan peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta. Prof Usep juga Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP).
Selama ini Prof Usep inilah yang memimpin penyusunan dan penulisan buku sejarah perjuangan KH Abdul Chalim, Kiai Muhamamd Yusuf Hasyim dan Kiai Abbas Abdul Jamil. Salah satu syarat calon pahlawan memang harus menyetorkan buku sejarah perjuangan terutama yang berdampak secara nasional.
Kiai Asep menjelaskan bahwa usia Hasan Gipo lebih sepuh dari Hadratussyaikh. Hasan Gipo lahir pada 1869, sedangkan Hadratssyaikh Kiai Hasyim Asy’ari lahir pada 1871.
Menurut Kiai Asep, pengusulan Kiai Hasan Gipo sebagai pahlawan nasional sangat penting karena sejarah perjuangannya sangat besar terhadap berdirinya Republik Indonesia.
“Tanpa Hasan Gipo tidak terbayangkan ada pertemuan ulama Komite Hijaz. Tanpa pertemuan ulama kita tak bisa membayangkan ada Nahdlatul Ulama. Tanpa Nahdlatul Ulama kita tak bisa membayangkan ada pertempuan 10 November Surabaya yang kemudian muncul fatwa Resolusi Jihad dari Hadratussyaikh Kiai Muhammad Hasyim Asy’ari yang sangat heroik. Betapa heroiknya arek-arek Suroboyo karena fatwa fardlu ‘ain untuk berperang melawan penjajah,” ujar Kiai Asep yang dikenal sebagai kiai miliarder tapi dermawan.
Menurut Kiai Asep, dalam pertempuran 10 November 1945 itu banyak sekali korban bangsa Indonesia. “Korban meninggal sekitar 30 ribu hingga 40 ribu orang,” ujar Kiai Asep mengutip berita The New York Times, surat kabar terkemuka Amerika Serikat, yang terbit pada tanggal 12 November 1945.
Menurut Kiai Asep, Hasan Gipo adalah saudagar kaya yang banyak mempersembahkan hartanya untuk perjuangan bangsa, umat Islam dan NU.
Karena itu, menurut Kiai Asep, jasa besar Hasan Gipo harus diterbitkan dalam buku lalu diusulkan sebagai pahlawan nasional.
"Hanya saja dalam pengusulan sebagai pahalwan nasional itu harus seizin keluarga Kiai Hasan Gipo. Kita butuh surat pernyataan atau persetujuan tertulis dari keluarga Kiai Hasan Gipo. Keluarga ini yang sedang kita cari," ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatu Ulama (Pergunu) itu kepada BANGSAONLINE usai acara.
Prof Usep yang menjadi nara sumber dalam Sarasehan NU itu juga mengakui bahwa Hasan Gipo adalah tokoh besar yang banyak sekali jasanya terhadap bangsa Indonesia. Alumnus Monash Unversity Australia itu menemukan beberapa data tentang Hasan Gipo yang cukup signifikan.
“Hasan Gipo adalah ketua perseroan atau perkumpulan dagang,” ujar Prof Usep menunjukkan bahwa Hasan Gipo adalah seorang konglomerat besar.
Menurut Prof Usep, nama perkumpulan Perseroan yang dipimpin Hasan Gipo itu menarik. Yaitu Ngampel Dento. “Namanya PT Ngampel Dento. Modalnya 50 ribu golden, terdiri dari 500 saham,” ujar Prof Usep yang juga alumnus Leiden University Belanda.
Menurut Prof Usep, mitra dagang Hasan Gipo juga lintas negara. Ada orang Eropa, Tiongkok dan tentu juga kalangan pribumi.
“Hasan Gipo berani bersaing dengan orang Eropa, orang Tionghoa dan juga pribumi,” ujar Prof Usep.
Menurut Prof Usep, Hasan Gipo juga Ketua Persatuan Kemakmuran Masjid-Masjid di Surabaya. Dalam kapasitas sebagai ketua Persatuan Kemakmuran Masjid itu Hasan Gipo sangat peduli terhadap fakir miskin.
“Hasan Gipo selalu menyediakan tempat untuk fakir miskin. Hasan Gipo juga membangun masjid dan memperbaiki masjid, terutama Masjid Kemayoran,” ujarnya.
Seorang peserta bertanya kenapa selama ini nama Hasan Gipo tak sepopuler para pendiri NU yang lain? Prof Usep menjelaskan bahwa nama Hasan Gipo kurang mendapat sentuhan akademik.
“Nggak usah jauh-jauh ke UIN Ciputat, di UINSA Surabaya saja berapa skripsi yang membahas soal Hasan Gipo,” ujar Prof Usep yang juga alumnus Duke University Amerika Serikat.
“Bahkan di Arsip Nasional tidak ada Hasan Gipo. Jadi kurang mendapat sentuhan akademik,” ujar Prof Usep sembari mengatakan bahwa Hasan Gipo itu ibarat mutiara yang ada di depan mata tapi kita tak menyentuhnya.
Beda dengan Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari. Menurut Prof Usep, selain memang pemimpin tertinggi NU dan sangat berpengaruh juga banyak mendapat perhatian dari para akademisi. Menurut dia, banyak sekali akademisi – termasuk para akademisi luar negeri – yang menjadikan Hadratussyaikh sebagai obyek studi atau kajian akademik.
Prof Usep mencontohkan di Monash University Australia, tempat ia mengambil S3. Ada mahasiswa S3 yang disertasinya membahas Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari. Otomatis NU juga popular di berbagai perguruan tinggi luar negeri.
Bahkan Greg Fealy, tutur Prof Usep, menjadikan lambang NU sebagai backgraound layar di belakangnya. Greg Fealy adalah akademisi terkemuka Australia yang mendalami politik dan sejarah Indonesia. Greg Fealy pernah menulis buku terkenal berjudul Ijtihad Politik Ulama: Sejarah NU 1952-1967 (Ulama and Politics in Indonesia: A History of Nahdlatul Ulama 1952-1967).
Menurut Prof Usep, di NU banyak sekali tokoh-tokoh yang memiliki potensi besar tapi tak popular. Karena kurang mendapat sentuhan akademik. Ia menyebut KH Abdul Chalim. Menurut dia, Kiai Abdul Chalim itu seorang pujangga. Tapi orang NU tak ada yang tahu.
“Kiai Abdul Chalim itu menulis sebanyak 4.781 syair,” ujarnya. “Sejak usia 15 tahun Kiai Abdul Chalim sudah menulis kidung dengan huruf pegon,” tambahnya.
Karena itu Prof Usep mengajak warga NU menjadi pemuda berkemaun. Termasuk berkemauan melakukan sentuhan akademik terhadap para tokoh besar NU. Prof Usep menyinggung konseptualisasi Ali Syari’ati bahwa sebagus apapun ide jika tidak direalisasikan dalam program aksi akan kurang bermakna.
“Ternyata Pak Yai Asep lebih pemuda dari pada kita. Kan yang mendorong Hasan Gipo jadi pahlawan itu Pak Yai Asep,” ujar Prof Usep sembari tersenyum.
Selain Prof Usep juga tampil sebagai nara sumber Yahya Muhammad, Mahfud dan lainnya.










