Teladan Moral Ulama NU, Dipaksa Malaikat pun, Kiai As'ad dan Kiai Mahrus Menolak Jadi Rais Aam

Oleh: M. Mas’ud Adnan

Rais Aam Syuriah PBNU merupakan jabatan sangat berat dan ketat. Bukan saja harus alim atau faqih ilmu fiqh (yurisprudensi Islam). Tapi juga qalbun salim (hatinya bersih), tawaddlu’ (rendah hati) dan akhlaqul karimah (berakhlak mulia). Juga harus wira’i: berhati-hati menjaga diri dari barang haram dan syubhat. Rais Aam juga harus zuhud (tak ambisius urusan duniawi termasuk jabatan), adil dan memiliki muruah tinggi serta integritas kokoh, disamping munadim (organisatoris) dan muharrik (penggerak). Tapi benarkah ada ulama menolak dipilih sebagai Rais Aam? Silakan simak tulisan M. Mas’ud Adnan, CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE di bawah ini:

Saya kembali mencermati manuver aktor-aktor Muktamar ke-35 NU. Tak terasa air mata menetes. Di mushalla kecil saya di rumah. Hati pedih. Tapi saya tak ingin kehilangan obyektivitas. Saya jaga akal sehat. Saya angkat cangkir kopi pahit. Saya menyeruputnya agar pikiran tetap jernih dan hati tenang.

Ndilalah saya kok ingat pernyataan KH Ubaidullah Shodaqoh Jawa Tengah.

“Mempunyai keinginan jadi Rais, itu sudah tidak memenuhi syarat jadi Rais,” ujar Mbah Ubaid, panggilan akrab ulama bertubuh tinggi kurus itu.

Mbah Ubaid adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Itqon, Bugen, Tlogosari Wetan, Pedurungan, Kota Semarang. Saya pernah ke kediaman beliau, meski beliau tak kenal saya. Beliau Rais Syuriah PWNU Jawa Tengah

Tiba-tiba saya juga ingat Gus Mus. Saya pernah ke kediaman beliau. Dua kali. Pertama, meliput halaqah nasional. Era Presiden Soeharto. Salah satu pembicaranya Dr Arif Budiman. Kedua, silaturahim bersama teman-teman.

Gus Mus sangat menyenangkan. Petuah-petuahnya sering kritis tapi menyejukkan. Nama lengkapnya: KH Ahmad Mustofa Bisri. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh Rembang Jawa Tengah itu sering mengungkap keteladanan kiai-kiai NU. Termasuk kiai yang menolak dipilih sebagai Rais Aam PBNU.

Gus Mus menyebut KHR As’ad Syamsul Arifin Situbondo. Menurut Gus Mus, Kiai As’ad secara tegas menolak ketika diminta menjadi Rais Aam Syuriah PBNU. Yang menarik, penolakan itu disampaikan secara hiperbolik untuk menunjukkan sikap tegas sekaligus tawaddlu’.

“Meskipun Malaikat Jibril turun dari langit untuk memaksa saya, saya pasti akan menolak,” ujar Kiai As’ad Syamsul Arifin.

Itu terjadi ketika para kiai sepuh NU mencari sosok pengganti KH Bisri Syansuri sebagai Rais Aam. Kiai Bisri Syansuri wafat pada 25 April 1980 di usia 93 tahun.

Kiai As’ad yang memiliki kharisma tinggi itu kemudian mengusulkan KH Mahrus Aly Lirboyo sebagai ulama yang pantas menjadi Rais Aam. Ternyata Kiai Mahrus justeru lebih keras penolakannya.

 “Jangankan Malaikat Jibril, kalau pun Malaikat Izrail turun dan memaksa saya, saya tetap tak bersedia,” tegas Kiai Mahrus Aly.

Para kiai besar peserta musyawarah alim ulama bingung. Mereka kemudian sepakat memilih KH Ali Ma’shum Krapyak Yogyakarta. Tapi Kiai Ali Ma’shum juga tak bersedia. Alasannya sangat tawaddlu’: merasa tak pantas menggantikan Kiai Bisri Syansuri.

Kiai Ali Ma’shum baru luluh setelah para ulama meyakinkan bahwa kepercayaan seluruh alim ulama tidak boleh disia-siakan demi persatuan umat.

Ya, itulah tradisi luhur para muassis dan ulama NU terdahulu. Mereka tidak pernah silau, apalagi berebut jabatan. Mereka justeru berebut menolak jabatan karena rasa tanggung jawab dan takut kepada Allah SWT.

Gus Mus sendiri berkali-kali menolak dipilih sebagai Rais Aam. Saat Muktamar ke-34 NU di Lampung Gus Mus meraih suara terbanyak kedua dalam pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa). Gus Mus mendapat 494 suara. Gus Mus berada di bawah ranking KH Dimyati Rois yang mendapat suara terbanyak, 503 suara. Tapi baik Kiai Dimyati maupun Gus Mus sama-sama menolak dipilih sebagai Rais Aam. Justeru KH Miftachul Akhyar yang meraih ranking ke-6, 395 suara, yang bersedia jadi Rais Aam.

Dalam Muktamar ke-35 NU di Pesantren Bahrul Ulum Jombang, Kiai Miftachul Akhyar juga bukan peraih suara terbanyak. Ia menempati ranking 4 dengan perolehan suara 350 suara. Peraih suara terbanyak adalah KH Nurul Huda Djazuli (Ploso Kediri) yaitu 458 suara.

Suara terbanyak kedua adalah KH Nuruzzahri Yahya, Rais Syuriah PWNU Aceh. Ia mendapat 477 suara. Sedangkan suara terbanyak ketiga KH Baharuddin HS, Rais Syuriah PWNU Sulsel. Ia meraih 392 suara. Baru Kiai Miftachul Akhyar ranking keempat. Tapi Kiai Miftach yang ditetapkan sebagai Rais Aam.

Warga NU pun penasaran. Apalagi nama-nama kiai besar dan berpengaruh seperti Gus Mus, KH Ma’ruf Amin, Buya Muhtadi Dimyathi (mursyid Tarekat As-Syadziliyah) dan Prof KH Asep Saifuddin Chalim, tak mendapat suara signifikan di Ahwa Muktamar ke-35 NU itu.

Rais Aam bukan semata jabatan organisasional dan spiritual. Tapi juga khuluqiyah dan zuhudiyah. Khuluqiyah menyangkut keluhuran akhlak, moral, budi pekerti, dan adab sopan santun. Seorang Rais Aam harus memiliki perilaku terpuji, baik kepada Allah SWT, diri sendiri, sesama manusia, maupun lingkungan. Rais Aam, dengan demikian, adalah seorang sufistik yang fokus pada penyucian jiwa, penjernihan akhlak, serta istiqamah melakukan pendekatan diri kepada Allah SWT.

Dalam perspektif zuhudiyah, Rais Aam mengutamakan independensi jiwa, tidak tersandra kemewahan duniawi baik berupa jabatan maupun harta. Seorang Rais Aam fokus mencari keridaan Allah demi meningkatkan martabat manusia. Wallahu a’lam bisshawab.