Pantau Dua Sesar Aktif, Pemkot Surabaya Pasang Seismograf Raspberry Shake pada 2026

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berencana memasang 4 hingga 5 unit alat deteksi gempa bumi (seismograf) pada tahun 2026. Langkah ini diambil sebagai upaya mitigasi bencana sekaligus memantau pergerakan dua jalur patahan (sesar) aktif yang melintasi wilayah Kota Surabaya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya, Irvan Widyanto, menyampaikan bahwa perangkat yang akan digunakan adalah Raspberry Shake (RS6D). Spesifikasi alat ini diusulkan oleh tim geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang dipimpin Prof. Amien Widodo.

Irvan menjelaskan bahwa RS6D dipilih karena memiliki keunggulan teknis serta lebih efisien dari sisi anggaran untuk wilayah perkotaan. Perangkat ini menjadi solusi alternatif yang jauh lebih ekonomis dibanding instrumen seismik konvensional tanpa mengurangi kualitas data profesional.

“Alatnya yang berukuran kecil juga memudahkan penempatan di area kota yang terbatas,” kata Irvan, Kamis (17/9/2026).

Selain itu, perangkat ini mampu merekam getaran dari gempa skala kecil hingga besar. Dilengkapi dengan teknologi artificial intelligence (AI), alat ini dapat merekam data secara instan tanpa jeda (real-time).

Integrasi ke Command Center 112 dan Penempatan Alat

Secara ideal, Kota Surabaya membutuhkan sekitar 14 stasiun pemancar untuk mencakup seluruh wilayah. Namun, pada tahap awal tahun ini, Pemkot Surabaya memprioritaskan pemasangan 4 hingga 5 unit terlebih dahulu.

“Pemasangan akan diutamakan berada di ruang-ruang publik atau perkantoran yang memiliki jaringan internet stabil,” kata Irvan.

Ia menambahkan, pemasangan seismograf ini bertujuan untuk memperkuat mitigasi bencana serta membangun kesadaran masyarakat agar tahu langkah tepat yang harus dilakukan saat terjadi gempa.

“Dengan pemasangan alat ini, kami juga ingin membangun sistem peringatan dini melalui pemantauan harian yang nantinya akan diintegrasikan dengan pusat kendali, Command Center 112,” imbuhnya.

Menanggapi maraknya isu potensi gempa di media sosial, Pemkot Surabaya bekerja sama dengan BMKG (khususnya Stasiun Geofisika Pasuruan dan Probolinggo) serta tim ahli ITS untuk menyajikan informasi resmi yang valid.

Irvan menegaskan, karakteristik sesar di Surabaya tergolong lempengan kecil. Meskipun besarnya getaran tetap bergantung pada kedalaman gempa, masyarakat diminta untuk tidak panik berlebihan.

“Kami mengimbau warga tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Fokus utama masyarakat adalah meningkatkan kewaspadaan diri dan keluarga tanpa mengganggu aktivitas sehari-hari,” tandasnya.

Hasil Survei Patahan Surabaya dan Waru

Pemasangan seismograf ini sejalan dengan hasil survei terbaru Pemkot Surabaya bersama tim ahli geologi terkait keberadaan dua patahan aktif dari sistem Sesar Kendeng yang membelah Kota Surabaya, yaitu Patahan Surabaya dan Patahan Waru.

Pakar Geologi, Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si., menjelaskan bahwa kedua patahan tersebut memiliki karakteristik patahan naik (thrust fault). Aktivitas geologis ini ditandai dengan adanya dorongan dari bawah permukaan bumi yang secara perlahan mengangkat lapisan tanah hingga membentuk bukit-bukit memanjang di wilayah kota.

Hasil survei tersebut menekankan pentingnya pemantauan berkelanjutan demi keselamatan masyarakat.

"Pemasangan alat-alat seismograf ini sangat diperlukan untuk memonitor pergerakan sesar secara real-time. Dengan mengetahui tingkat keaktifannya, kita dapat terus bersiaga dan meningkatkan kewaspadaan apabila sewaktu-waktu terjadi pergerakan yang lebih signifikan," tutup Amien.