JOMBANG, BANGSAONLINE.com-Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), jagat NU dan pesantren heboh. Para kiai tersentak. Manuver politik tidak hanya terjadi dalam bentuk adu strategi tapi juga berupa tebaran uang haram (money politics). Bahkan juga fitnah.
Kali ini yang menjadi korban fitnah adalah KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Pengasuh Pesantren Tebuireng yang kebetulan salah seorang calon ketua umum PBNU. Siapa yang memfitnah?
Dalam Podcast LP3ES Khalilur Rahman Abdullah Sahlawiy terang-terangan menuduh Gus Kikin tak bisa mengaji. Ia juga menyebut Gus Kikin tak mumpuni sebagai ulama.
“Tapi yang paling menyakitkan kami para kader muda NU adalah beliau yang diusung tidak cukup mumpuni untuk disebut sebagai ulama. Dengan segala hormat saya pada Yai Abdul Hakim Mahfudz, Gus Kikin. Gus Kikin memang dzurriyah muassis NU. Tapi secara keilmuan, ilmu agama, mohon maaf, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Pesantren Tebuireng, Gus Kikin sama sekali tak bisa mengaji,” ujar Khalilur Rahman Abdullah Sahlawiy dalam podcast tersebut.
Khalilurrahman memakai frasa atau diksi “sama sekali tak bisa mengaji”. Ia tampaknya ingin menunjukkan kepada publik bahwa Gus Kikin bukan sekedar tidak bisa mengaji tapi ia benar-benar tak paham soal agama.
Komentar pun berhamburan. Termasuk dari para kiai. Khalilurrahman bukan saja dianggap tak punya adab tapi juga telah menghina dan merendahkan ulama.
Tapi benarkah Gus Kikin sama sekali tak bisa mengaji seperti dituduhkan Khalilurrahman. BANGSAONLINE melakukan konfirmasi kepada Dr H Mohammad Anang Firdaus, M.Pd.i, Wakil Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Tebuireng. Ma’had Aly Hasyim Asy’ari adalah perguruan tinggi Islam di Pesantren Tebuireng yang fokus pada kajian Hadits. Ma’had Hasyim Asy’ari mewajibkan para mahasiswanya berbahasa Arab aktif dan piawai baca kitab dan Al-Quran.
Anang Firdaus, kiai muda yang fasih berbahasa Arab itu menuturkan bahwa Gus Kikin bisa mengaji. Dari mana Gus Kikin belajar mengaji?
Anang Firdaus menjelaskan bahwa Gus Kikin saat muda mengaji sorogan kepada abahnya sendiri, KH Mahfud Anwar.

KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). Foto: ist
Seperti diberitakan BANGSAONLINE, KH Mahfudz Anwar, ayahanda Gus Kikin, adalah pendiri Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang. Namun sebelum mendirikan Pesantren Sunan Ampel, Kiai Mahfudz Anwar pernah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak yang letaknya sekitar 350 meter dari Pesantren Tebuireng.
“Gus Kikin ngaji sorogan Muslim kepada abahnya,” ujar Ustadz Anang Firdaus kepada BANGSAONLINE, Kamis (20/8/2026).
Kitab Shahih Muslim adalah kitab koleksi Hadits yang disusun oleh Muslim bin al-Hajjaj. Beliau murid Imam Bukhari, penyusun hadits-hadits nomor wahid. Di kalangan muslim Sunni Kitab Shahih Muslim dianggap sebagi koleksi hadits terbaik kedua setelah Shahih Bukhari.
Sedangkan sorogan adalah metode belajar tradisional di pesantren. Teknisnya si santri membaca kitab sendiri dengan disimak kiai atau guru. Jadi dalam sistem sorogan seorang santri aktif membaca di depan kiai atau guru.
Ini kebalikan sistem bandongan, yakni sang kiai membacakan kitab, sedangkan para santrinya menyimak atau mendengarkan.
Menurut Anang, Gus Kikin ngaji Kitab Shahih Muslim itu selama empat tahun kepada Kiai Mahfudz Anwar.
"Kalau sekarang ngaji kilatan Bukhari Muslim itu kan satu bulan di Tebuireng. Gus Kikin ngaji sampai empat tahun," ujar Anang yang aktif sebagai dosen di Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Tebuireng.
Sekedar informasi, Pesantren Tebuireng setiap bulan suci Ramadan menggelar ngaji Kitab Bukhari Muslim. Pengajian legendaris ini merupakan warisan atau tradisi intelektual dari Hadratussyaikh.
Dulu Hadratussyaikh selalu mengaji Kitab Bukhari Muslim tiap Ramadan. Banyak sekali ulama atau kiai yang mengikuti pengajian Hadratussyaikh itu dari berbagai pesantren penjuru nusantara. Konon, termasuk ulama-ulama yang merupakan guru Hadratussyaikh sendiri. Hadratussyaikh memang dikenal sebagai ulama ahli hadits, disamping ilmu-ilmu lainnya.
Tradisi ngaji Bukhari Muslim tiap Ramadan itu berlanjut hingga sekarang di Pesantren Tebuireng. Banyak kiai atau santri yang ingin menyambung sanad keilmuan tentang hadits mengikuti pengajian yang dimulai satu bulan sebelum Ramadan itu.
Menurut Anang, Gus Kikin sampai sekarang masih aktif mengkaji Kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim. Yaitu kitab karangan Hadratussyaikh.
Gus Kikin memang intensif mengkaji karya-karya Hadratussyaikh. Termasuk Qanun Asasi.
"Karena Hadratussyaikh mengutamakan persatuan, semua dirangkul," kata Gus Kikin kepada BANGSAONLINE sembari mengatakan bahwa ia akan menaladani Hadratussyaikh.
Gus Kikin yang sekarang Ketua PWNU Jawa Timur itu bertekad akan berkeliling Indonesia untuk mensosialisasikan nilai-nilai Qanun Asasi kepada warga NU dan pengurus NU agar tak terjadi konflik berlarut-larut seperti yang menimpa PBNU sekarang.
"Saya akan keliling Indonesia untuk menyosialisasikan Qanun Asasi karena sekarang warisan Mbah Hasyim ini sudah mulai ditinggalkan oleh pngurus NU," ujar Gus Kikin yang fasih berbahasa Inggris.
Menurut Gus Kikin, konflik PBNU yang tak kunjung usai juga bukti bahwa Qanun Asasi sudah ditinggalkan.
Gus Kikin lahir di Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang dari pasangan KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Makshum pada 17 Agustus 1958. Gus Kikin merupakan cicit Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng yang dikenal luas sebagai pendiri Jam’iyah Diniyah Ijtima’iyah Nahdlatul Ulama (NU).
Jadi trah Gus Kikin adalah dzurriyah Hadratussyaikh dari jalur ibu. Nyai Hj Abidah Makshum, ibunda Gus Kikin, adalah putri Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, putri sulung Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari.
Gus Kikin juga cucu KH Ma’shum Ali, ulama zuhud dan pengarang sejumlah kitab kuning. Diantara kitabnya yang popular adalah Al-Amtsilah at-Tashrifiyyah. Kitab ini merupakan morfologi bahasa Arab yang di kalangan pesantren popular dengan ilmu Sharaf. Kitab Tashrif – demikian biasanya disebut – menjadi salah satu kitab atau pelajaran penting dalam kurikulum pondok pesantren.
Lalu siapa Khalilur Rahman Abdullah Sahlawiy? Ia seorang pengusaha - termasuk soal tambang - yang dikenal sebagai pendukung fanatik KH Said Aqi Siraj. Sekarang Kiai Said Aqil disebut-sebut sebagai calon Rais ‘Aam Syuriah PBNU.
Saat ramai-ramai soal pengelolaan tambang di PBNU Khalilurrahman ikut membahas tentang pengelolaan tambang di media sosial. Menurut dia, mengelola tambang itu bagi dirinya mudah.
Dilansir perlementerjatim.com, 11 Desember 2025, Khalilurrahman juga pernah menyatakan bahwa ia mengelola induk perusahaan yang membawahi ratusan anak perusahaan yang memiliki Ratusan Konsesi Pertambangan di Jawa Timur.
Dalam aturan di PBNU sempat mencuat ke publik bahwa Rais Aam secara otomatis atau exoffisio sebagai Komisaris Utama perusahaan tambang milik NU, sedang Ketua Umum PBNU otomatis jadi Direktur Utama.
Nama perusahaan pengelola tambang milik Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) adalah PT Berkah Usaha Muamalah Nusantara (PT BUMN).
Khalilurrahman juga pernah melakukan demo ke kantor PWNU Jawa Timur. Ia menyuarakan agar ada capres atau cawapres dari NU pada pilpres 2024. Ia menyebut beberapa nama, diantaranya Said Aqil Siraj sebagai cawapres atau calon presiden. Ia bahkan terang-terangan menyebut Said Aqil adalah gurunya. Ia memanggil Said Aqil dengan panggilan Buya.
Sekarang Khalilurrahman menuai hujatan. Ia dianggap tak punya adab atau suul adab. Apalagi Gus Kikin dzuriyah Hadratussyaikh dan pengasuh pesantren besar.
Seorang kiai bahkan langsung mengecap Khalilurrahman kuang ajar.
"Kurang ajar dia. Berani-beraninya menilai seorang kiai seperti itu," ujar kiai yang juga pengasuh pesantren yang memiliki puluhan ribu santri itu.
Menurut beliau, Khalilurrahman bukan saja keluar dari adab NU tapi juga sudah tak punya akhlak.
Di media sosial Khalilurrahman juga dihujat. "Itu menebar fitnah," ujar seorang pemilik akun di facebook.










