Menjelang Muktamar NU ke-35, Ali Masykur Musa Serukan Kejernihan Hati dan Niat Khidmah

JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Menjelang perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35, Silaturrahmi Nasional Majelis Alumni IPNU digelar di The Grove Suites by Grand Aston, Jakarta, pada Jumat (7/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. KH. Ali Masykur Musa memilih mengawali pemaparannya dari fondasi yang paling mendasar: perjalanan panjang khidmah dan pengabdian.

Di hadapan para ulama, kiai, tokoh senior, serta rekan-rekan sejawatnya, ia menyapa hadirin dengan hangat. Kehadiran Ali Masykur Musa dalam forum tersebut berlangsung relatif mendadak.

Ia mengaku bahwa undangan dari Prof. Niam baru diterimanya sehari sebelumnya sekitar waktu dzuhur, usai keduanya sempat bertukar pikiran mengenai agenda Muktamar saat menghadiri peluncuran buku KH. Ma’ruf Amin.

“Kalau diundang, kita adalah tamu yang baik, kalau diundang bisa hadir,” ungkapnya mengenang percakapan singkat tersebut.

Pembicaraan kemudian bergeser ke topik yang lebih krusial, yakni dinamika kontestasi kepemimpinan PBNU.

Secara terbuka, Ali Masykur Musa menegaskan bahwa hingga saat ini dirinya belum pernah menyatakan secara resmi kepada pihak mana pun terkait keterlibatannya dalam bursa calon Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. Pendirian ini lahir dari cara pandangnya terhadap hakikat pengabdian yang telah ia jalani sejak belia.

“Bahkan 70 persen hidup saya adalah untuk NU,” tuturnya.

Rekam jejak pengabdiannya memang terentang panjang. Dimulai dari kiprah di IPNU hingga dipercaya menjadi ketua umum, lalu memimpin PP PMII semasa kuliah, hingga mengemban amanah sebagai Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU).

Persinggungan pengabdiannya kian mendalam di ranah spiritual saat ia memasuki dunia tarekat dan diberi amanah sebagai Mudir A'li Idarah Aliyah Jam’iyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN).

Satu hal yang menarik, sepanjang sejarah kepemimpinannya di berbagai tingkatan organisasi tersebut, seluruh proses keterpilihannya selalu berlangsung secara aklamasi.

Pengalaman bertahun-tahun itulah yang membuatnya memandang Muktamar bukan sekadar ajang perebutan takhta, melainkan ruang pengujian niat: apakah seseorang datang demi mengejar jabatan, atau untuk memastikan amanah jam'iyyah berada di tangan yang tepat demi kemaslahatan umat.

Bagi Ali Masykur Musa, kepemimpinan bukanlah kalkulasi soal siapa yang maju atau seberapa besar dukungan yang dikantongi. Ada mekanisme organisasi, musyawarah Muktamar, dan yang utama adalah takdir Allah SWT.

“Kalau ada yang lebih baik dan itu disetujui Muktamar, itulah yang terbaik dan itulah akhirnya,” kata Ali Masykur Musa.

Ia menegaskan pentingnya menghormati Muktamar sebagai permusyawaratan tertinggi organisasi, bukan panggung persaingan kekuasaan semata. Ia pun enggan berspekulasi mengenai peta kepemimpinan NU ke depan.

“Saya tidak tahu takdir untuk siapa. Semua adalah sirr, semua sirr rahasia dari Allah SWT.”

Pandangan ini memberikan dimensi spiritual yang mendalam terhadap pelaksanaan Muktamar. Pengabdian panjang bagi NU tidak harus berujung pada ambisi menduduki puncak kepemimpinan. Pengabdian memiliki salurannya sendiri, sedangkan kepemimpinan merupakan simpul takdir dan proses organisasi yang wajib dihormati.

Setelah menguraikan gagasan strategis mengenai Amanah Diniyah, penguatan soft diplomacy NU di tingkat global, peneguhan Amanatul Wathan, hingga kemandirian ekonomi jam'iyyah, ia mengembalikan seluruh pembicaraan pada satu fondasi utama: kebersihan niat dan ketulusan batin.

Ali Masykur Musa tidak mengakhiri pandangannya dengan kalkulasi politik atau keorganisasian. Ia justru mengajak seluruh muktamirin untuk melakukan penataan batin.

“Semoga Allah meridhoi dan merahmati. Aamiin. Mari kita bermuktamar dengan betul-betul berangkat dari hati.”

Ia mengingatkan bahwa masa depan NU tidak cukup dirumuskan dengan perdebatan argumentatif, melainkan harus dibarengi dengan kejernihan spiritual.

“Kita betul-betul 'tazkiyatun nafs', dan kita masuk ke gelanggang Muktamar dengan 'tashfiyatul qalbi', membeningkan mata hati, karena kita adalah untuk NU.”

Pernyataan ini melengkapi gagasan besar yang dibawanya untuk Muktamar ke-35.

“Karena kita adalah untuk NU. NU untuk Indonesia, Indonesia untuk dunia,” pungkasnya.