"Ketum dan Rais Aam yang akan datang, carilah orang yang tidak banyak masalah atau yang tidak banyak berkonflik seperti kemarin,” tegasnya.
Menurutnya, posisi Ketua Umum dan Rais Aam bukan sekadar jabatan struktural, melainkan simbol moral serta rujukan teladan umat.
Oleh karena itu, figur yang dipilih harus memiliki integritas tinggi, ketenangan dalam bersikap, serta kemampuan meredam konflik, bukan justru menjadi bagian dari konflik.
Ia menambahkan, NU sebagai organisasi besar dengan jutaan jamaah membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga kesejukan, memperkuat persatuan, serta mengedepankan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah An-nahdliyah secara utuh.










