“Maka perlu dilakukan riset, apakah memang defisit beras? Jika iya, di wilayah mana yang defisit dan wilayah mana yang surplus? Sehingga harus ada impor beras dengan jumlah 1.000 ton? Apalagi dari negara yang jaraknya sangat jauh alias bukan negara tetangga. Maka secara logika banyak risiko, termasuk pembiayaan dalam proses distribusi,” tegasnya.
Ning Lia mengkhawatirkan masuknya beras impor akan merusak ekosistem harga beras lokal. Jika pasokan dalam negeri sebenarnya mencukupi namun pasar justru dibanjiri beras luar negeri, maka serapan gabah petani dipastikan akan terganggu.
“Pada prinsipnya, jangan sampai terjadi penurunan harga beras nasional atau lokal akibat tidak terserap pasar. Jangan sampai supply ternyata sudah memenuhi demand, namun tidak terserap pasar akibat beras impor. Kalau sudah begini, ekuilibrium atau keseimbangan harga pasar beras tidak tercapai, dan lagi-lagi kita nanti mendengar jeritan hati para petani,” tuturnya.
Momentum rencana impor ini dinilai sangat sensitif karena bertepatan dengan bulan Ramadhan menjelang Syawal, di mana para petani menaruh harapan besar pada hasil panen mereka.










