Menurut Edy, hasil pemeriksaan awal di lapangan menunjukkan bahwa kerusakan parah itu dipicu oleh fenomena overtopping, yakni kondisi ketika permukaan air sungai naik melebihi lantai jembatan.
“Air sungai meningkat sangat cepat hingga melampaui permukaan jembatan. Tekanan dan arus yang kuat kemudian menggerus serta menyeret bagian konstruksi bangunan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, secara teknis bangunan jembatan yang ada sebenarnya telah dirancang sesuai standar yang berlaku.
Namun, curah hujan ekstrem yang terjadi belakangan ini membuat kapasitas desain tidak lagi mampu menahan lonjakan debit air yang tidak biasa.










