Perjalanan Musyaddat hingga ke panggung MTQ provinsi tak lepas dari peran besar keluarganya. Sang ayah, Ali Said, selalu mendampingi dan memberikan dukungan moral selama proses seleksi.
“Sejak seleksi tingkat kabupaten hingga kini di provinsi, saya terus mendampinginya. Kami berkomitmen untuk mendukung sepenuhnya,” tutur Ali Said.
Kisah Musyaddat menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk berprestasi. Kehadirannya dalam ajang MTQ tahun ini menjadi sumber inspirasi, tidak hanya bagi peserta lain, tetapi juga masyarakat luas.
MTQ XXXI Jawa Timur yang digelar di Jember memang memberi ruang luas bagi para kafilah dari berbagai latar belakang, termasuk penyandang disabilitas, untuk mengekspresikan kecintaan mereka terhadap Al-Quran.










