NU dan Bahaya Soft Power Zionis

NU dan Bahaya Soft Power Zionis Khariri Makmun. Foto: Ist

Geopolitik modern tidak lagi hanya soal perang militer. Zionis dan sekutunya di Washington dan Eropa mengandalkan soft power: diplomasi budaya, pendidikan, wacana pluralisme, hingga infiltrasi pemikiran ke organisasi keagamaan. Dengan strategi ini, mereka tidak perlu menaklukkan Indonesia dengan senjata, cukup dengan membuat elit-elit terbiasa duduk semeja dengan Zionis.

Di titik ini, kita melihat hari ini semakin kehilangan kemampuan mengidentifikasi siapa musuh yang sebenarnya. Padahal ulama-ulama terdahulu sangat jelas garisnya: penjajah harus dilawan, bukan diajak dialog. KH. Hasyim Asy’ari dengan resolusi jihadnya, KH. Wahid Hasyim dengan diplomasi Islamnya, KH. Ahmad Siddiq dengan khittah 1984 – semua menegaskan sebagai benteng melawan kolonialisme. Hari ini, PB justru membuka pintu bagi kolonialisme modern: Zionisme.

Soft Power Zionisme

Jika kita melihat strategi global Zionis-Israel, penyusupan ke dalam sebenarnya adalah bagian dari pola yang lebih besar: penggunaan soft power. Mereka sadar tidak bisa memukul Islam secara langsung, karena akan memicu resistensi global. Maka yang dipilih adalah cara halus: dialog antaragama, pertukaran budaya, beasiswa ke Barat, dan proyek-proyek sosial kemanusiaan. Di balik slogan manis itu, ada agenda menggerus ideologi, memutus jalur militansi umat, dan mensterilkan gerakan Islam dari semangat anti-penjajahan.

, sebagai organisasi keagamaan dengan basis massa besar, sangat menggoda untuk dijadikan pintu masuk. Apalagi elit banyak yang sudah “nyaman” dengan fasilitas negara, proyek pemerintah, atau bahkan akses internasional. Dalam kondisi seperti ini, sangat mudah bagi aktor luar untuk menyusup dengan bahasa persahabatan, kerja sama, atau “modernisasi Islam.” Padahal yang terjadi adalah pelumpuhan daya kritis dan hilangnya sensitivitas terhadap isu Palestina maupun hegemoni Zionis.

Lemahnya filter ideologi tampak jelas ketika sebagian elitnya justru berbangga diri ketika diundang ke forum-forum internasional yang didanai oleh lembaga pro-Israel atau simpatisan Zionis. Mereka menyebutnya sebagai langkah maju, padahal itu hanyalah bentuk kooptasi. Dalam tradisi Islam klasik, seorang ulama dituntut untuk wara’, hati-hati terhadap siapa yang mendanai, siapa yang mengundang, dan siapa yang memberi panggung. Namun kini sebagian pengurus justru menganggap itu sebagai “prestasi diplomasi.”

Kelemahan ini bukan sekadar kesalahan individu, melainkan akibat dari kecerobohon elit : kaderisasi ideologi di tubuh semakin rapuh. lebih sibuk dengan politik praktis dibanding membangun kesadaran geopolitik di kalangan kiai dan santri. Akibatnya, infiltrasi Zionis tidak terbaca, atau bahkan sengaja dibiarkan karena dianggap “tidak ada masalah.”

Mengapa Zionis Harus Menyusup ke ?

Pertanyaan ini memang tidak bisa dihindari: kenapa Zionis begitu getol menyusup ke tubuh ? Jawabannya jelas, Zionis tidak mungkin membuang waktu menghabiskan energi untuk organisasi kecil tanpa basis massa. Mereka hanya fokus pada target besar, organisasi yang punya pengaruh luas, dan adalah sasaran empuk itu. bukan sekadar ormas keagamaan, tapi simbol Islam tradisional terbesar di dunia, dengan ratusan juta jamaah yang bisa digerakkan. Jika bersuara lantang, bukan hanya publik Indonesia yang berguncang, tapi juga percaturan global akan berubah.

Bayangkan seandainya bersikap tegas melawan Israel. Suara akan mengguncang forum-forum internasional, menjadi kekuatan moral yang tak bisa diremehkan dalam diplomasi global. Indonesia bisa punya modal politik baru untuk menekan Israel di PBB atau forum internasional lain. Bahkan, negara-negara Islam yang masih ragu atau setengah hati mendukung Palestina bisa terdorong jika melihat mengambil sikap keras. Itulah bahaya terbesar bagi Zionis: potensi perlawanan yang lahir dari umat mayoritas dengan basis ideologi Aswaja.

Tetapi masalahnya, potensi itu kini justru dilumpuhkan dari dalam. Alih-alih menjadi benteng perlawanan, terlihat kian melemah, bahkan dipertontonkan sebagai lembaga yang bisa diajak kompromi. Inilah strategi klasik infiltrasi: jangan tunggu musuh besar bangkit, lumpuhkan kesadarannya sejak dini, kendalikan dari dalam, dan buat ia kehilangan orientasi. Zionis paham betul, jika dibiarkan bebas menentukan sikap, maka bisa menjadi “pembakar semangat perlawanan” yang sulit dikendalikan. Maka cara paling efektif adalah membuat kehilangan ideologi dan kepemimpinan visioner.

Realitas hari ini membuktikan hal itu. Skandal keterlibatan tokoh-tokoh Zionis dalam program strategis , hingga lawatan Yahya Staquf ke Israel, menjadi tanda bahwa sedang diarahkan keluar dari khittah perjuangannya. Publik dikejutkan, tapi bagi Zionis, ini kemenangan diplomasi senyap. Mereka tidak perlu menghabiskan energi menghadapi di jalanan, karena elit sendiri sudah membuka pintu. Yang hilang bukan sekadar independensi, tapi juga kehormatan sejarah sebagai benteng umat.

Dampaknya sangat serius. Jika berhasil dibungkam atau dibelokkan, maka umat Islam Indonesia otomatis kehilangan kekuatan politik dan moralnya. yang seharusnya menjadi penggerak kebangkitan malah berubah menjadi instrumen untuk menenangkan, bahkan meredam suara umat. Zionis paham betul: lumpuhkan , maka umat Islam Indonesia akan terpecah, bingung, dan kehilangan arah perjuangan. Inilah strategi kolonial gaya baru: bukan lagi lewat penjajahan fisik, tapi lewat infiltrasi ideologi dan kooptasi kepemimpinan.

Karena itu, para ulama dan Kiai harus berani berkata jujur dan tegas: hari ini sedang berada di ambang kehancuran ideologis. Jika terus membiarkan dirinya dipelintir, dijadikan panggung bagi kaki tangan Zionis, maka sejarah akan mencatat bukan lagi benteng ASWAJA dan Indonesia, melainkan pengkhianat umat. Lebih baik runtuh dengan kehormatan karena melawan, daripada hidup panjang tapi menjadi peliharaan asing. Zionis tidak boleh diberi ruang, tidak boleh diberi pintu, bahkan tidak boleh diberi celah satu inci pun untuk menancapkan kuku di tubuh . Jika elit tetap diam, maka umatlah yang harus mengguncang, agar kembali ke khittahnya berjalan sesuai jalur perjuangannya.[]

* Penulis adalah Direktur Moderation Corner, Jakarta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Gila NU dan Orang NU Gila, Anekdot Gus Dur Edisi Ramadan (16)':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO