Salah satu layanan resmi BPJS Kesehatan, JKN Mobile. Foto: Sulthon/Bangsaonline.
MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Cabang Mojokerto mengimbau kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus penipuan yang mengatasnamakan BPJS Kesehatan.
Hal ini disampaikan mengingat kasus penipuan yang menyasar peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang semakin marak, terutama melalui saluran komunikasi seperti telepon, pesan singkat, media sosial, bahkan kunjungan langsung yang mengatasnamakan petugas resmi.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Mojokerto, Elke Winasari, menegaskan pentingnya meningkatkan literasi digital dan kehati-hatian masyarakat terhadap informasi yang belum terverifikasi. la menyampaikan bahwa BPJS Kesehatan tidak pernah meminta data pribadi seperti nomor rekening, PIN, atau password melalui telepon atau pesan pribadi.
"BPJS Kesehatan hanya menyampaikan informasi melalui kanal resmi seperti aplikasi mobile JKN, Pandawa, Call Center, dan website bpjs-kesehatan.go.id, serta akun media sosial terverifikasi. Kami tidak pernah meminta data pribadi seperti nomor rekening atau sebagainya. Jika ada pihak yang mengaku petugas BPJS dan meminta hal-hal tersebut, mohon segera abaikan dan laporkan," tegas Elke, Sabtu (24/5/2025).
Modus yang digunakan sangat beragam, mulai dari permintaan data pribadi dengan alasan pembaruan data kepesertaan, iming-iming pengembalian iuran, klaim hadiah, hingga ancaman pencabutan keanggotaan JKN. Masyarakat yang kurang waspada berisiko menjadi korban, terutama kelompok lansia atau peserta yang belum terbiasa dengan hal-hal tersebut. Selain itu, BPJS Kesehatan juga menegaskan bahwa tidak ada pungutan biaya atau transfer dana secara pribadi dalam pelayanan.
Semua proses administratif dan pelayanan dilakukan secara transparan sesuai ketentuan yang berlaku, serta ditentukan dalam regulasi resmi dan diinformasikan melalui kanal yang sah.
"Modus penipuan ini meresahkan, karena menyasar berbagai kalangan, terutama masyarakat awam dan lansia yang kurang familiar dengan digital. Mereka sering menjadi target karena dianggap lebih mudah percaya dan belum memahami dengan baik bagaimana alur layanan resmi BPJS Kesehatan,” jelas Elke.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




