"Bapak diteriaki, dipukul. Tangannya dipegangi, dipukul pakai batu kepalanya," ujar Dio di rumahnya mengenang kisah tragis yang menimpa ayahnya.
Sebagai anak kecil, Dio mengaku kalut dan menangis antara ketakutan dan ingin menolong. Karena tidak memiliki kemampuan melawan, dia lalu berlari ke arah samping menuju rumah pamannya. Dia berteriak memanggil pamannya untuk keluar.
Tapi, salah seorang preman kemudian meneriakinya agar tidak macam-macam. "Kon ojo rame, tak pateni pisan (Kamu jangan teriak, aku bunuh sekalian)," kata Dio menirukan teriakan si preman.
Dio ketakutan bukan kepalang. Dia hanya sanggup menangis melihat sang Bapak diikat tangannya ke belakang dan disiksa gerombolan preman tersebut. Ia melihat bapaknya diimpit di motor untuk dibawa ke balai desa. Dio sempat mengejar hingga jalan raya, dia terus menangis sejadi-jadinya. Pada akhirnya, Salim atau dikenal sebagai Kancil, ditemukan tewas di hutan sengon dekat kuburan, tak jauh dari rumahnya.










