Budayawan Asal Kota Batu Kuak Filosofi Tumpeng, Ternyata Ada 47 Jenis di Tanah Jawa

Budayawan Asal Kota Batu Kuak Filosofi Tumpeng, Ternyata Ada 47 Jenis di Tanah Jawa Foto: Sulthon/BANGSAONLINE.com

BANGSAONLINE.com – Tumpeng merupakan makanan tradisional Indonesia yang disajikan di atas tampah bambu, dengan nasi yang dibentuk mengerucut dan terdapat lauk dan sayur di bagian sampingnya.

Hingga saat ini, masih sering digunakan di berbagai acara seperti syukuran, ulang tahun, kenduri, megengan, hingga acara penting lainnya.

Romo Miswanto, seorang asal Kota Batu, menjelaskan bahwa istilah memiliki makna metune lempeng (keluar lurus atau tegak lurus). Tegak lurus melambangkan tekad kita, niat dan keinginan kuat untuk menyembah kepada Sang Pencipta.

"Itu sebabnya, kata juga berasal dari kata tumpak atau pucuk. Harapannya, kita mempersembahkan sebagai puncak dari persembahan kita kepada Tuhan," ucap Romo Miswanto, saat menjadi narasumber di acara Sarasehan SMAN 2 Batu.

Filosofi sangat lekat dengan perwujudan nilai toleransi antarsesama, keikhlasan, kebesaran jiwa, dan kekaguman atas kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Bentuk yang mengerucut dan dikelilingi lauk-pauk serta sayuran menggambarkan simbol ekosistem kehidupan.

“Bentuknya menyerupai menhir (batu tegak lurus zaman prasejarah), juga seperti gunung, dan diperkuat lagi seperti candi. Di sekitarnya ada lauk pauk yang beraneka ragam. Dalam dunia nyata, di sekitar gunung juga ada tumbuh-tumbuhan berbagai jenis. Ini merupakan perwujudan atau lambang alam semesta dengan segala macam isinya,’’ papar Romo Miswanto.

Sementara itu, lanjut Romo Miswanto, bentuk nasi yang mengerucut dan menjulang tinggi melambangkan keagungan Tuhan Sang Maha Pencipta. Aneka lauk-pauk dan sayuran di sekeliling nasi menjadi simbol isi alam.

Klik Berita Selanjutnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO