Dan apa sih maunya NATO itu? Seperti membiarkan keadaan digantung tidak menentu.
Sampai-sampai saya baca berita di kantor berita asing, Al Jazeera, kemarin dulu: orang Medan kini lebih sulit mencari Indomie di toko-toko. Diceritakan di situ: satu orang Medan sangat fanatik Indomie. Ia begitu mengeluhkan kelangkaan Indomie. Harga Indomie yang biasanya Rp 2.300-Rp 2.500 kini menjadi Rp 2.700 - Rp 2.800. Ia tahu: sulitnya mendapat Indomie itu akibat perang di Ukraina.
Saya pun bertanya ke beberapa sumber yang dekat dengan terigu. Ternyata Indonesia memang impor gandum sangat besar dari Ukraina: 3 juta ton. Setahun. Itu angka tahun 2020.
Anehnya gandum dari negara lain juga terpengaruh. Misalnya yang dari Australia. Ikut terganggu. "Kami kian sulit mendapat gandum dari Australia," ujar pengusaha terigu di Makassar. "Masih bisa dapat sih, tapi harganya naik drastis," katanyi. "Naik sampai 50 persen," tambahnyi.










