Ia mengungkapkan, bahwa awalnya pihak PT. BAG telah sepakat jika pemasangan jaringan pipa tidak akan merusak JUT milik petani. Namun, pada pelaksanaanya justru merusak JUT. Pemasangan pipa itu mengeruk JUT, sehingga menimbulkan protes keras dari warga sekitar.
“Memang pernah ada pertemuan dan sudah sepakat tidak akan merusak atau mengeruk jalan JUT. Karena, JUT hasil kerja bakti warga sini. Sekarang, bertahun-tahun ada sumber minyak di sini, bahkan pengembangan proyek gas. Warga meminta pembangunan JUT, diabaikan," timpal warga lain Galih Sumbarno.
Sebelumnya, dalam pertemuan yang dilaksanakan Senin (17/6), bersama warga setempat, perwakilan PT. BAG Andik Cahyo menjelaskan kronologi pelaksanaan proyek pipanisasi dan rencana pengelolaan Flare Gas dari sumber gas bumi lapangan Tapen. Dalam perencanaan, penanaman jaringan pipa akan melewati Desa Sidoharjo, Rayung, Sembung, Binangun yang terletak di wilayah 3 Kecamatan, yakni Kecamatan Senori, Singgahan, dan Parengan.
“Kita sudah lakukan sosialisasi di beberapa desa seperti Desa Rayung, Sidoharjo, Sembung, dan Binangun. Terakhir balik ke Desa Sidoharjo untuk bahas sewa menyewa lahan. Bahkan, area persawahan yang dilalui pipa sudah dilakukan penyewaan lahan selama 5-6 tahun ke depanya,” tuturnya.










