Sekalipun mengalami beberapa pembaruan, lanjut Suratno, namun ada satu bagian yang sejak berdiri hingga sekarang ini tak pernah berubah. Bagian itu berada di sisi tengah masjid, berupa bangunan utama berbentuk joglo klasik dan ditopang empat pilar penyangga.
Bangunan itu memang sengaja tak pernah diutak-atik. Pilar kayu dengan pahatan sedikit kasar itu dibiarkan berdiri tegak tanpa dipoles. Itu melambangkan kegigihan sang sunan dalam mensyiarkan Islam kala itu. Begitupun kayu ukiran yang melintang di atas tengah masjid hanya dilapisi cet berwarna kecoklatan
"Para sesepuh di desa ini tak pernah tahu pasti, kapan persisnya ulama kerajaan Mataram itu berdakwah di Kecamatan Ngadirojo ini," jelasnya.











