Menurutnya, Ki Ageng Wiroyudo bisa sampai ke Desa Cangaan menggunakan perahu. Sebab, Desa Cangaan letaknya persis di pinggir Bengawan Solo.
"Dahulu ceritanya beliau melarikan diri dari kejaran Belanda, kemudian berhenti di Desa Cangaan dan menetep hingga membangun sebuah masjid untuk menyebarkan agama islam di sini," paparnya.
BACA JUGA:Bea Cukai Bojonegoro Musnahkan 10 Juta Rokok Ilegal, Selamatkan Rp7,7 Miliar Kerugian Negara

Kekunoan yang tertinggal masjid itu adalah lantai dan kusen pintu, selebihnya hasil renovasi beberapa tahap pengembangan masjid Jami’ Nurul Huda. Lantai tegel dan ukiran pada tinggalan kuno masih menunjukkan masa gaya abad ke 18-19 M. Selain itu, benda-benda kuno seperti peti kayu, keris, tombak juga masih ada.










