Sesuai hasil USG, di perut pasien diketahu terdapat cairan. Dokter menyarankan agar cairan itu dikeluarkan dengan cara disedot, agar tidak tambah parah. Sebelum dilakukan penyedotan, dokter menyarankan pasien mendapatkan transfusi darah golongan O.
Setelah tambah darah sebanyak dua bag, kata Faisal, ayahnya dikatakan stabil, dan kemudian dilakukan penyedotan cairan. "Sebelum dilakukan penyedotan saya diberi resep, dengan menebus di apotek senilai Rp 2,1 juta," kata dia.
Namun, hasil sedotan ternyata bukan cairan, tapi darah segar.
"Karena yang keluar adalah darah, maka dokter memutuskan bahwa penyakit ayah saya itu adalah kanker ZA. Katanya sudah cukup parah, kemungkinan sembuhnya 50 persen. Padahal sebelumnya, dokter meyakinkan bahwa penyakit yang diderita pasien adalah liver kronis," ungkapnya.










