Yang lebih penting adalah keberanian tampil di depan umum, kemampuan mengasah keterampilan, serta keberhasilan mengatasi rasa takut dan ego dalam diri.
"Jangan pernah terlalu terbebani oleh perlombaan. Kemenangan itu sebenarnya nomor sekian. Hambatan terbesar itu ada dalam diri sendiri, yaitu bagaimana kita mampu mengalahkan ambisi, ego, dan ketakutan untuk tampil di depan publik," pesan Wabup Purnomo.
Ia menambahkan, seorang dai tidak cukup hanya mampu tampil menghibur dengan humor maupun bahasa tubuh yang menarik.

Lebih dari itu, dai harus dapat menyampaikan pesan yang substantif sehingga memberikan pelajaran dan manfaat bagi para pendengarnya.
Selain kemampuan menyampaikan dakwah, para dai muda juga diharapkan peka serta adaptif terhadap berbagai persoalan sosial yang berkembang di kalangan pelajar.
Menurutnya, isu seperti pencegahan perundungan (bullying) dan kecanduan gawai (gadget) menjadi materi yang relevan untuk disampaikan dalam dakwah saat ini.
Melihat dampak positif kegiatan tersebut, Purnomo menyatakan Pemkab Madiun akan terus mendukung penyelenggaraan Festival Dai Cilik pada tahun-tahun berikutnya.
Bahkan, Pemkab Madiun siap menjadi tuan rumah untuk puncak penyelenggaraan festival tersebut pada tahun mendatang.
"Insyaallah Pak Bupati dan saya siap memberikan yang terbaik. Sehingga Kabupaten Madiun bisa menjadi pusat atau puncak acara Dai Cilik tahun depan," pungkasnya.
Setelah acara pembukaan, para peserta dari berbagai SMP dan MTs tampak antusias mengikuti festival.
Mereka berani tampil di hadapan para hadirin dengan menunjukkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki. (adv/dro)










