Ringkasan Berita
- Menhaj Gus Irfan menekankan pentingnya kemandirian jemaah haji dan meminta KBIHU memaksimalkan manasik untuk pemahaman mendalam.
- Manasik harus mencakup penjelasan rinci tentang rukun, wajib, hingga perbedaan pendapat fikih agar jemaah siap dan tidak bingung di Tanah Suci.
- Pemahaman tentang skema layanan seperti tanazul dan murur juga harus diberikan untuk membantu jemaah memahami kebijakan operasional di Arab Saudi.
- Keberhasilan bimbingan diukur dari kemampuan jemaah menjalankan ibadah secara mandiri dan memahami setiap tahapan tanpa bergantung pada pendamping.
MADIUN, BANGSAONLINE.com – Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf (Menhaj Gus Irfan), menegaskan pentingnya membangun kemandirian jemaah haji sejak manasik. Ia berharap, jemaah memahami tata cara dan rangkaian haji sebelum ke Tanah Suci.
Hal tersebut ditekankan Gus Irfan, sapaan Menhaj, saat membuka Kick Off Manasik Haji Akbar Nasional Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan Expo UMKM dan Ekosistem Haji & Umrah di Stadion Wilis, Kota Madiun, Jumat (25/9/2026).
“Kita ingin semua calon jemaah haji memahami wajib, rukun, dan sunah haji. Yang kedua, kami ingin jemaah kita mandiri dan tidak bergantung kepada KBIHU ketika sudah berada di Tanah Suci,” papar Gus Irfan.
Dia meminta Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) memaksimalkan masa manasik untuk memberikan pemahaman secara rinci kepada jemaah.
Menurutnya, keberhasilan pembimbingan justru terlihat ketika jemaah mampu menjalankan rangkaian ibadah secara mandiri serta memahami apa yang harus dilakukan dalam setiap tahapan haji.
“Saya minta KBIHU memberikan penjelasan serinci-rincinya tentang haji. Jangan sampai nanti jemaah sudah berada di sana tetapi masih bingung, saya harus apa? Umrah wajib bagaimana caranya? Semuanya harus sudah siap dari sini,” tegasnya.
Menhaj menjelaskan, pemahaman yang kuat sejak di Tanah Air juga penting agar jemaah tidak mudah mengalami kebingungan ketika menemukan perbedaan dalam praktik ibadah.
Jemaah perlu mendapatkan penjelasan secara utuh dalam manasik sehingga dapat memahami adanya perbedaan pendapat dalam beberapa persoalan fikih dan tetap saling menghormati selama menjalankan ibadah.
“Kita ingin semua rukun dan wajibnya dipahami dari sini. Kalau memang ada perbedaan, harus dipahami sejak awal sehingga ketika di sana tidak perlu saling berbantah-bantahan. Jemaah sudah saling memahami dan saling menghargai,” katanya.
Selain materi dasar ibadah, Menhaj meminta pemahaman mengenai skema layanan seperti tanazul dan murur dimasukkan secara jelas dalam manasik. Hal tersebut diperlukan agar jemaah memahami kebijakan operasional yang akan mereka jalani selama berada di Arab Saudi.
Menurut Menhaj, manasik harus bergeser dari sekadar penyampaian materi menjadi proses pembentukan jemaah yang memahami ibadah, mampu mengambil tindakan dengan benar, serta tidak selalu bergantung kepada pendamping.
“Semua harus sudah siap dari sini,” katanya.
Kick Off Manasik Haji Akbar Nasional menjadi bagian dari persiapan penyelenggaraan ibadah haji 1448 H/2027 M. Kegiatan di Madiun tersebut juga diikuti calon jemaah dari berbagai daerah secara daring sebagai penanda dimulainya pelaksanaan manasik secara nasional. (msn)










