Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan Kawal Tata Niaga Daging Sapi dan Kambing

PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan menyoroti lonjakan harga daging sapi dan permainan harga kambing yang merugikan peternak lokal.

Hal tersebut dibahas dalam podcast Jawara atau akronim dari Jagongan Wakil Rakyat bertajuk 'Daging Sapi Naik Kelas, Ternak Kambing Jangan ‘Diadu Domba’” bersama Agus Suyanto, Elyas, dan Nur Laila.

Agus menegaskan, rantai distribusi panjang menjadi penyebab utama harga daging sapi melonjak.

“Sapi dari peternak desa melewati banyak tangan perantara. Setiap tangan mengambil margin, sehingga harga di pasar terkerek sangat tinggi,” ujarnya.

Elyas menambahkan, biaya pakan yang meningkat membuat peternak enggan menambah populasi sapi potong.

“Pasuruan ini lumbung ternak, tapi biaya operasional yang tinggi menekan margin peternak,” katanya.

Sementara itu, Nur Laila menyoroti dampak langsung bagi UMKM kuliner.

“Pedagang bakso dan warung makan terpaksa menaikkan harga atau memperkecil ukuran produk. Kasihan pedagang kecil kalau tidak ada intervensi pemerintah,” paparnya.

Komisi II DPRD Kabupaten Pasuruan juga mengungkap modus spekulan di pasar kambing yang menekan harga di tingkat peternak.

Agus Suyanto menyatakan, “Spekulan menawar kompak dengan harga murah, lalu menjual kembali dengan harga berlipat. Peternak kita dipaksa rugi.”

Sebagai solusi, dewan mendorong digitalisasi harga pasar hewan, penguatan peran Rumah Potong Hewan (RPH), serta operasi pasar daging murah menjelang hari besar.

Selain itu, pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan silase fermentasi dan akses permodalan KUR Peternakan diharapkan menekan biaya produksi.

“Komitmen kami adalah menjaga keseimbangan tata niaga. Peternak harus untung, pedagang mendapat margin adil, dan masyarakat bisa membeli daging dengan harga terjangkau,” ucap Agus. (red)