Jenguk Santri Keracunan di Sidoarjo, Gubernur Khofifah Soroti Waktu Distribusi MBG

Lebih lanjut, Gubernur Khofifah mengajak semua pihak terus berbenah dalam implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia menegaskan, program yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto tersebut memiliki tujuan strategis untuk memperbaiki kualitas gizi generasi penerus bangsa melalui penyediaan makanan bergizi bagi siswa dan santri.

"Jadi memang kita harus terus berbenah, semua lini harus melakukan monitoring dan pengawasan sekaligus merekomendasikan tidak hanya kepada BGN tetapi juga kepada SPPG setempat," kata Gubernur Khofifah.

Ia menyampaikan, dalam implementasinya, program prioritas nasional tersebut membutuhkan pengelolaan, manajemen, dan pengawasan yang cermat.

Hal itu mencakup seluruh proses, mulai dari bahan makanan yang digunakan hingga makanan tersaji kepada penerima manfaat.

Pemilihan bahan makanan, pengolahan, distribusi hingga penyajian kepada penerima manfaat harus diperhitungkan secara tepat agar makanan tetap aman dan sehat saat dikonsumsi.

"Ini kasusnya dimasak bersama dengan format yang sama. Yang pengirimannya relatif lebih awal itu aman. Tapi yang pengirimannya terlambat ini yang kemudian menjadikan masalah," ungkapnya.

Perbedaan waktu distribusi, kata dia, dapat menjadi salah satu penyebab munculnya masalah. Hal itu karena setiap makanan yang dimasak memiliki batas waktu konsumsi yang aman.

"Bedanya adalah pada masa pengiriman dari SPPG itu ke titik penerima manfaat, jadi kalau selesai dimasak jam 5 kemudian jam 7 diantar jam 10 sudah bisa dimanfaatkan oleh penerima manfaat ini semua aman," katanya.

Gubernur Khofifah juga menuturkan para korban yang  mengalami keracunan mendapatkan suplai makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama, yakni SPPG Kali Tengah, Kecamatan Tanggulangin.

SPPG tersebut menyalurkan makanan ke 18 unit penerima manfaat, salah satunya kepada santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manba'ul Hikam Sidoarjo.

"Saya tanya ada Kadinkes, ada Kakankemenag yang mendapatkan manfaat dari SPPG yang sama itu ada 18 unit, dari 18 unit yang lain relatif semua berjalan baik," terangnya.

"Tapi kemudian ada yang dikirimnya baru jam 11 atau jam 11 lebih, dan dikonsumsi jam 12.30 sampai jam 1 inilah yang kemudian ditemukan ada masalah," imbuhnya.

Diketahui, di RSI Siti Hajar Kabupaten Sidoarjo, Kamis (3/9), terdapat 27 pasien yang sedang menjalani perawatan.

Dari jumlah tersebut, 24 pasien dinyatakan sehat dan dapat pulang pada hari yang sama, sementara tiga pasien lainnya masih menjalani observasi oleh dokter dan pihak rumah sakit. Jika kondisi mereka membaik pada sore hari, seluruh pasien dapat pulang.

"Dari 27 itu, 24 insyaallah clear pagi ini bisa pulang, yang 3 nunggu observasi lagi, tapi mudah-mudahan sore juga bisa pulang jadi Insya Allah mereka sudah dalam kondisi baik," ungkapnya.

Gubernur Khofifah menyampaikan pasien yang dirawat di RSI Siti Hajar mengaku mengalami mual dan pusing. Mereka baru diperbolehkan meninggalkan rumah sakit setelah keluhan tersebut tidak lagi dirasakan.

"Saya tanya kepada pasien mual dan pusing sudah tidak ada tapi yang Insya Allah sudah clear bisa pulang pagi ini 24 dari 27 pasien," tegasnya.

Sebelumnya, pada Selasa (1/9), sebanyak 664 korban . mengalami keracunan setelah menyantap makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Korban terbanyak berasal dari Pondok Pesantren (Ponpes) Manba'ul Hikam Sidoarjo.

Selain Ponpes Manba’ul Hikam, terdapat 18 lembaga pendidikan lain yang mengalami kejadian serupa pada hari yang sama sejak Selasa (1/9) sore.

Sejumlah satuan pendidikan tersebut memiliki kesamaan, yakni menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kali Tengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, pada Selasa (1/9).

Per 2 September 2026 pukul 22.00 WIB, tercatat total 664 korban mendapatkan perawatan medis, baik di rumah sakit, fasilitas kesehatan lainnya, maupun di pesantren.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 77 pasien sedang menjalani perawatan di rumah sakit, 581 pasien menjalani rawat jalan, dan enam pasien masih dalam observasi.

Keseluruhan korban mendapatkan perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, antara lain RSUD N.T. Notopuro, RS Delta Surya, RS Siti Hajar, RS Pusura, RSU Aisyiyah St Fatimah, RS Pusdik Bhayangkara, RS Arafah Anwar Medika, RS Anwar Medika, RS Assakinah Medika, PKM Porong, RS Rahman Rahim, Puskesmas Tanggulangin, Bidan Praktik Mandiri, Dokter Praktik Mandiri, dan pengobatan di pesantren. (dev/van)