Ringkasan Berita
- Gus Kikin mengaku optimis sebagai calon Ketum PBNU hasil aspirasi PWNU Jatim, tetapi menyerahkan keputusan akhir sepenuhnya kepada para muktamirin.
- Ia menekankan pentingnya menjaga silaturahmi dan mendengarkan respons berbagai elemen NU selama proses pencalonan, tanpa terlalu memikirkan perolehan suara.
- Jika terpilih, salah satu gagasan prioritasnya adalah mempelajari kembali naskah Khittah Asasi yang ditemukan di Pesantren Tebuireng untuk kemungkinan penerapan di masa depan.
- Gus Kikin menyerahkan mekanisme pemilihan ketua umum kepada pembahasan muktamar, dengan harapan sistem yang adil tetap memberi ruang aspirasi bagi PWNU dan PCNU.
- Ia menanggapi penyebutan namanya oleh Presiden Prabowo dengan hati-hati, menegaskan bahwa NU harus menjaga hubungan baik dengan negara dan berperan sebagai civil society yang membangun bersama pemerintah.
JOMBANG,BANGSAONLINE.com - KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mengaku optimistis menghadapi pencalonannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar NU 2026.
Gus Kikin mengatakan, pencalonan dirinya merupakan aspirasi dari PWNU Jawa Timur. Namun, ia menegaskan keputusan akhir mengenai sosok yang akan memimpin PBNU sepenuhnya berada di tangan para muktamirin.
"Saya dicalonkan oleh PBNU Jawa Timur. Kemudian kita masuk ke proses-proses ini. Nanti kita lihat bagaimana muktamirinnya, yang menentukan muktamirin," ujar Gus Kikin.
Menurutnya, seluruh nama yang muncul dalam bursa memiliki peluang yang sama. Karena itu, ia memilih menjalani proses tersebut dengan tenang sembari terus berkomunikasi dan bersilaturahmi dengan berbagai pihak.
"Semua punya peluang. Kalau saya selalu optimis," katanya.
Gus Kikin juga mengaku tidak ingin terlalu memikirkan jumlah suara yang akan diperolehnya dalam pemilihan nanti.
Baginya, membangun silaturahmi dan mendengarkan respons dari berbagai elemen NU menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
"Tugas saya itu bersilaturahim. Kalau banyak yang responsnya bagus, saya rasa itu mungkin cukup untuk optimis," ungkapnya.
Ingin Pelajari Kembali Khittah Asasi
Jika nantinya mendapat amanah memimpin PBNU, Gus Kikin mengungkapkan salah satu gagasan yang ingin dipelajari lebih lanjut, yakni mengenai Khittah Asasi.
Ia menyebut menemukan naskah Khittah Asasi ketika berada di lingkungan Pesantren Tebuireng. Menurutnya, naskah tersebut perlu dikaji untuk melihat kemungkinan penerapannya kembali dalam perjalanan organisasi NU ke depan.
"Di Tebuireng itu saya menemukan naskah Khittah Asasi. Itu yang akan kita pelajari, bagaimana Khittah Asasi itu bisa diberlakukan lagi untuk persyaratan NU ke depan," jelasnya.
Meski demikian, Gus Kikin menyadari gagasan tersebut membutuhkan proses panjang. Kajian dan pembahasan diperlukan sebelum Khittah Asasi dapat benar-benar diterapkan dalam tata kelola organisasi.
"Itu cukup lama nanti untuk bisa mengaplikasikan Khittah Asasi itu ke dalam perjalanan NU ke depan," tambahnya.
Soal Mekanisme Pemilihan Ketum, Gus Kikin Serahkan ke Muktamirin
Mengenai perdebatan sistem pemilihan Ketua Umum PBNU, Gus Kikin menilai persoalan tersebut nantinya menjadi ranah pembahasan Komisi Organisasi dalam Muktamar NU 2026.
Ia berharap mekanisme yang dipilih merupakan sistem yang paling adil dan tetap memberikan ruang bagi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) maupun Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) untuk menyampaikan aspirasi.
"Yang paling adil, cabang-cabang diberikan peluang. PW, PC pun diberikan peluang untuk menyampaikan aspirasinya. Kemudian bagaimana Rais Aam juga ikut berperan di dalam memutuskan," terangnya.
Saat ditanya mengenai sistem pemilihan yang lebih ia pilih, Gus Kikin kembali menegaskan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan opsi yang nantinya disepakati.
"Saya sama saja. Semuanya bagus. Yang penting kita semuanya guyub, bermusyawarah dengan baik," ujarnya.
Ia menilai siapa pun yang nantinya terpilih harus mampu membawa NU memasuki periode berikutnya dengan semangat kebersamaan, bukan justru memperlebar perbedaan.
"Mudah-mudahan periode ke depan dimulai dengan kebersamaan. Itu saya rasa yang terbaik nanti," imbuhnya.
Gus Kikin juga menanggapi beredarnya sejumlah paket kandidat menjelang Muktamar NU 2026. Ia mengaku mengetahui adanya paket-paket tersebut, tetapi tidak mengetahui pihak yang membuatnya.
Menurutnya, karena paket tersebut tidak muncul melalui mekanisme resmi organisasi, dirinya memilih tidak memberikan tanggapan lebih jauh.
"Saya baca. Orang yang bikin saya tidak tahu siapa yang bikin. Jadi susah menanggapi, orang itu memang tidak resmi," katanya
Soal Pernyataan Prabowo, Gus Kikin Jawab Hal ini
Gus Kikin juga ditanya mengenai momen Presiden Prabowo Subianto menyebut sejumlah nama yang beredar sebagai kandidat Ketua Umum PBNU, termasuk dirinya.
Ketika ditanya apakah penyebutan namanya tersebut merupakan bentuk dukungan atau endorsement dari Presiden Prabowo, Gus Kikin mengaku tidak dapat memastikan hal tersebut.
"Ya, mungkin iya. Tapi saya tidak bisa membaca sejauh itu. Kalau perasaan ya mungkin ada, tapi untuk membacanya kan tidak mudah, namanya perasaan seorang presiden," ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kehadirannya dalam momen tersebut bukan karena adanya komunikasi khusus dengan Presiden. Menurutnya, dirinya berada di lokasi tersebut secara kebetulan setelah melaksanakan salat.
Jika nantinya mendapat amanah sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin menegaskan pentingnya menjaga hubungan yang baik antara NU dan negara.
Menurutnya, NU tidak semestinya mengambil posisi berlawanan maupun bermusuhan dengan negara. NU justru memiliki peran dalam membangun masyarakat sipil yang dapat berjalan bersama pemerintah untuk membangun bangsa.
"NU itu tidak bisa berlawanan, bermusuhan dengan negara. NU itu memang membangun masyarakat menjadi civil society, dan itu kemudian kemasyarakatan yang memang harus kita bersama-sama dengan negara untuk membangun bangsa," jelasnya.
Menanggapi kemungkinan persaingan dengan sejumlah nama lain yang juga masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU, Gus Kikin memilih tidak menganggap proses tersebut sebagai sebuah pertarungan.
Ia mengatakan seluruh proses harus dijalani dengan santai dan tetap mengedepankan kebersamaan.
"Saya sih tidak merasa bertarung. Mana saja. Tidak usah terlalu serius, santai," pungkasnya.
Gus Kikin berharap dinamika menjelang Muktamar NU 2026 tidak menghilangkan semangat persaudaraan di tubuh NU. Menurutnya, perbedaan pilihan maupun pandangan merupakan bagian dari proses organisasi yang harus diselesaikan melalui musyawarah.
Bagi Gus Kikin, siapa pun yang nantinya mendapat amanah memimpin PBNU harus mampu menjaga organisasi tetap guyub dan memulai periode baru dengan semangat kebersamaan. (raf/van)










