Ringkasan Berita
- Gelombang dukungan terhadap KH Musta'in Syafi'ie (Yai Tain) muncul dari kalangan Nahdliyin di Jombang sebagai respons atas pelaporannya ke Bareskrim Polri atas tuduhan pencemaran nama baik oleh tim kuasa hukum Rais Aam PBNU.
- Para pendukung menilai pernyataan Yai Tain sebagai bentuk otokritik moral dan pengingat untuk menjaga etika serta kesederhanaan warisan pendiri NU, bukan serangan pribadi.
- Relawan yang mengatasnamakan 'KPK NU' menyatakan komitmen untuk mengawal integritas organisasi dan memantau pelaksanaan Muktamar NU mendatang agar bebas dari politik uang dan praktik transaksional.
- Mereka menyerukan kepada pengurus PWNU dan PCNU se-Indonesia untuk menjaga marwah Muktamar, merasa malu jika ajang tersebut mencederai keikhlasan dan perjuangan para pendiri NU.
- Kelompok ini siap mengumpulkan bukti dan melaporkan setiap indikasi pelanggaran atau praktik tidak semestinya selama Muktamar berlangsung melalui mekanisme yang tersedia.
JOMBANG,BANGSAONLINE.com - Gelombang dukungan terhadap KH Musta'in Syafi'ie atau Yai Tain datang dari kalangan Nahdliyin yang menyerukan penguatan moral di tubuh Nahdlatul Ulama (NU).
Aksi solidaritas tersebut digelar sejumlah warga NU di kompleks makam pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah, Tambakberas, Jombang, Rabu (25/8/2026).
Kegiatan diawali dengan pembacaan tawasul di pusara Mbah Wahab sebelum peserta memasuki agenda utama aksi.
Mengenakan kaus putih bertuliskan "KPK NU", para peserta menyatakan komitmennya untuk turut mengawal integritas organisasi.
Aksi tersebut dipicu langkah hukum berupa somasi dan pelaporan Yai Tain ke Bareskrim Polri oleh tim kuasa hukum Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar atas tuduhan pencemaran nama baik.
Koordinator aksi Solihin menilai pernyataan Pengasuh Pondok Pesantren Madrosatul Qur'an Tebuireng tersebut merupakan bentuk otokritik moral, bukan serangan terhadap pribadi tertentu.
Menurutnya, pandangan Yai Tain menjadi pengingat bagi PBNU agar tetap memegang teguh standar etika dan kesederhanaan yang diwariskan para pendiri NU.
"Bagaimana mungkin sebuah gerakan moral, pengingat akhlak, dan pesan untuk menjaga marwah NU justru dianggap mencemarkan nama baik?" ujar Solihin.
Ia mengatakan, pelaporan Yai Tain kepada kepolisian justru semakin menguatkan tekad para relawan untuk menyuarakan nilai-nilai moralitas di lingkungan organisasi.
“Justru dengan dilaporkannya Yai Tain, kami semakin yakin bahwa pesan tentang pentingnya menjaga moralitas dan marwah NU harus terus disuarakan,” tegasnya.
Dari Tambakberas, massa juga menyampaikan seruan terbuka kepada pengurus PWNU dan PCNU di seluruh Indonesia agar pelaksanaan Muktamar NU mendatang terbebas dari praktik politik uang dan kepentingan transaksional.
Mereka menilai praktik tersebut dapat mencederai marwah para muassis yang telah membangun NU melalui keikhlasan, perjuangan, dan pengorbanan.
"Kami meminta kepada PWNU dan PCNU, tolong jaga Muktamar NU ini. Jangan jadikan Muktamar sebagai ajang politik transaksional. Malu kepada Mbah Wahab. Malu kepada para muassis yang membangun NU dengan keikhlasan, perjuangan, dan pengorbanan," ujarnya.
Kelompok yang mengatasnamakan relawan KPK NU tersebut menyatakan siap memantau pelaksanaan Muktamar dan mengumpulkan bukti apabila menemukan indikasi pelanggaran selama kegiatan berlangsung.
"Kami akan mengawal. Kami akan mencermati setiap indikasi politik transaksional yang muncul dan, apabila menemukan dugaan pelanggaran atau praktik yang tidak semestinya, kami akan mengumpulkan bukti dan menyampaikannya melalui mekanisme yang tersedia," pungkasnya. (aan/van)










