Kemarau Panjang, Pemkab Gresik Siapkan 450 Tangki Air untuk Warga Terdampak Kekeringan

Ringkasan Berita
  • Pemerintah Kabupaten Gresik menyalurkan 20.000 liter air bersih ke Desa Tenggor, Balongpanggang, sebagai respon awal terhadap kekeringan dan memetakan 62 desa di 11 kecamatan yang berpotensi terdampak. Untuk jangka pendek, disiapkan 450 tangki air bersih (masing-masing 5.000 liter) guna mendistribusikan bantuan kepada warga.
  • Pemkab mengalokasikan anggaran tambahan Rp100 miliar melalui Perubahan APBD 2026 dan membuka saluran pelaporan (112, Lapor Gus, pemerintah desa) untuk mengidentifikasi kebutuhan masyarakat secara real-time. Kolaborasi dengan Baznas dan PMI Gresik juga diperkuat untuk meningkatkan kapasitas respons.
  • Selain distribusi air, upaya mitigasi jangka panjang dilakukan melalui normalisasi waduk dan saluran air (misalnya anak Sungai Kali Lamong) oleh DPUTR untuk meningkatkan kapasitas tampungan air saat musim hujan. Tujuannya adalah menyiapkan cadangan air yang memadai untuk musim kemarau berikutnya.
  • BPBD Gresik telah menyalurkan bantuan ke beberapa desa sebelumnya, seperti di Kecamatan Sidayu (Randuboto, Srowo) dan Bungah (Kemangi, Gumeng, Pegundan). Kesiapan logistik ditingkatkan dari 250 menjadi sekitar 450 tangki untuk mendukung distribusi selama musim kemarau.
  • Bupati Fandi Akhmad Yani menegaskan bahwa masalah air bersih tidak hanya disebabkan kekeringan, tapi juga gangguan distribusi perpipaan, sehingga masyarakat didorong melapor untuk penanganan yang tepat. Pemerintah berkomitmen menangani kebutuhan air hingga akhir tahun dengan anggaran dan kolaborasi yang telah disiapkan.

GRESIK,BANGSAONLINE.com - Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani bersama BPBD menyalurkan 20.000 liter air bersih kepada warga Desa Tenggor, Kecamatan Balongpanggang, yang terdampak kekeringan akibat kemarau panjang, Rabu (26/8/2026).

Sebanyak empat truk tangki dikerahkan untuk menyalurkan bantuan air bersih kepada warga Tenggor dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter.

Dengan demikian, total bantuan yang disalurkan dalam distribusi tersebut mencapai 20.000 liter air bersih.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, kebutuhan air bersih berpotensi meningkat seiring berlangsungnya musim kemarau.

Karena itu, Pemkab Gresik tidak hanya menyiapkan distribusi air, tetapi juga membuka akses pelaporan agar kebutuhan masyarakat dapat segera diketahui dan ditangani.

"Kami butuh informasi dari masyarakat Gresik, kecamatan atau desa mana yang membutuhkan air bersih. Bisa melalui 112, Lapor Gus di 0812-3225-4001, atau melalui pemerintah desa. Kepala desa bisa berkoordinasi dengan kecamatan untuk melaporkan kebutuhan air bersih di wilayahnya," ujar Bupati.

Bupati menegaskan, Pemkab Gresik juga telah menyiapkan dukungan anggaran untuk menangani kebutuhan air bersih.

Melalui Perubahan Anggaran Tahun 2026, tersedia tambahan anggaran Rp100 juta untuk mendukung penanganan kebutuhan air bersih.

Menurut dia, persoalan kekurangan air bersih membutuhkan penanganan bersama sehingga Pemkab Gresik akan memperkuat kolaborasi dengan sejumlah pihak, termasuk Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Gresik.

"Insya Allah tahun ini kita lebih siap, termasuk secara anggaran. Armada juga nanti bisa kita kolaborasikan. BPBD punya lima truk tangki, PMI Gresik juga punya anggaran dan infrastruktur truk operasional. Insya Allah dalam waktu dekat kita akan berkolaborasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menghadapi kemarau panjang ini," tandasnya.

Selain respons jangka pendek melalui distribusi air bersih, Pemkab Gresik juga menyiapkan langkah mitigasi jangka panjang.

Salah satunya dilakukan melalui normalisasi waduk dan saluran air untuk meningkatkan kapasitas tampungan ketika musim penghujan tiba.

Sebanyak 12 alat telah dikerahkan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Gresik untuk mengerjakan sejumlah titik, termasuk normalisasi anak Sungai Kali Lamong dan beberapa waduk di wilayah Gresik.

Bupati mengatakan, normalisasi tersebut merupakan bagian dari upaya menyiapkan cadangan air untuk menghadapi musim berikutnya.

Waduk yang mengalami pendangkalan dinormalisasi agar dapat menampung lebih banyak air ketika curah hujan kembali meningkat.

"Waduk juga sedang kita kerjakan. Seperti yang disampaikan Pak Kades, di Dohoagung, Kedungpring itu juga sedang kita kerjakan waduknya karena musim kemarau ini sudah dangkal. Kita normalisasi untuk persiapan ketika musim penghujan, supaya debit air yang tertampung cukup banyak," tuturnya.

Bupati juga mengingatkan bahwa persoalan air bersih di masyarakat tidak selalu disebabkan kekeringan.

Di sejumlah wilayah, persoalan serupa juga dapat terjadi akibat terganggunya kelancaran distribusi air perpipaan.

Karena itu, masyarakat diminta tidak ragu menyampaikan informasi apabila menemukan persoalan air bersih di lingkungannya.

Informasi dari masyarakat akan menjadi salah satu bahan penting bagi pemerintah untuk menentukan penanganan sesuai kondisi di lapangan.

"Kami butuh masukan, butuh informasi untuk disampaikan langsung. Desa mana, dusun mana, kecamatan mana. Tidak perlu khawatir, anggarannya juga kami siapkan sampai akhir tahun. Mudah-mudahan musim kemarau ini bisa kita lewati bersama," pungkasnya.

Berdasarkan pemetaan BPBD Gresik, terdapat 62 desa di 11 kecamatan yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih.

Wilayah tersebut mencakup 136 dusun yang tersebar di Kabupaten Gresik.

Kecamatan Balongpanggang menjadi salah satu wilayah yang masuk dalam pemetaan tersebut dengan enam desa yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih, yakni Ganggang, Ngasin, Dapet, Tenggor, Dohoagung, dan Tanahlandean.

Khusus Desa Tenggor, BPBD menerima permintaan bantuan untuk 720 kepala keluarga atau 465 rumah yang mengalami kekurangan air bersih.

Kepala BPBD Kabupaten Gresik Sukardi menyampaikan, sebelum distribusi ke Tenggor, BPBD Gresik telah menyalurkan bantuan air bersih ke lima desa.

Dua desa berada di Kecamatan Sidayu, yakni Randuboto dan Srowo, sedangkan tiga desa lainnya berada di Kecamatan Bungah, yakni Kemangi, Gumeng, dan Pegundan.

Untuk memperkuat respons di lapangan, BPBD Gresik telah menyiapkan lima armada tangki air dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter.

"BPBD sudah memetakan 62 desa dari 11 kecamatan yang berpotensi kekurangan air bersih. Untuk mendukung penanganan, kami sudah menyiapkan lima armada tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter," ujar Sukardi.

Dari sisi dukungan distribusi, BPBD sebelumnya memiliki alokasi untuk sekitar 250 tangki air.

Melalui perubahan anggaran, dukungan tersebut ditambah sekitar 200 tangki sehingga total kesiapan distribusi mencapai sekitar 450 tangki untuk membackup kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah terdampak kekeringan. (hud/van)