Geliatkan Sektor MICE, Disbudporapar Surabaya Tawarkan Paket City Tour hingga Destinasi Tematik

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memacu pertumbuhan sektor meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) dengan mengintegrasikan agenda pertemuan bisnis dan konvensi bersama potensi wisata daerah.

Strategi ini diterapkan guna mendorong para peserta MICE memperpanjang durasi tinggal (length of stay) sekaligus menikmati beragam pesona wisata Kota Pahlawan.

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, Herry Purwadi, menyampaikan bahwa Surabaya sejak lama memiliki fondasi kuat sebagai pusat perdagangan dan jasa. Keberadaan jaringan perhotelan yang memadai serta destinasi pendukung menjadi modal utama dalam memfasilitasi berbagai acara MICE berskala besar.

"Surabaya sudah terkenal dari dahulu sebagai kota perdagangan dan jasa. Apalagi di Kota Surabaya ini banyak hotel-hotel dan destinasi wisata. Di situlah tempat-tempat yang memang disediakan untuk pertemuan itu tadi," ungkap Herry, Senin (10/8/2026).

Potensi besar sektor ini tercermin dari performa akomodasi di Surabaya. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat penghunian kamar (TPK) hotel di Surabaya pada Juni 2026 menyentuh angka 53,00 persen. Catatan tersebut tumbuh 3,05 poin dibanding Mei 2026 yang berada di angka 49,95 persen, serta melampaui TPK rata-rata Provinsi Jawa Timur yang berada di level 38,57 persen.

Meski demikian, rata-rata lama menginap tamu (RLMT) di Surabaya pada periode Juni 2026 berada di angka 1,38 malam. Hal ini mengindikasikan bahwa mayoritas tamu hotel baru menghabiskan waktu sekitar satu hingga dua hari saja.

Data tersebut dibaca Pemkot Surabaya sebagai peluang emas untuk memikat para pelaku kegiatan MICE agar tidak langsung pulang seusai urusan pekerjaan selesai.

Herry menjelaskan, tren kunjungan peserta MICE selama ini cenderung terpolakan secara singkat: datang untuk rapat, menginap, lalu segera kembali ke daerah asal. Untuk memecah pola tersebut, Pemkot Surabaya menyiapkan berbagai penawaran paket wisata menarik.

"Pemerintah Kota Surabaya memberikan tawaran untuk mereka stay lebih lama. Dengan apa? Menjual paket-paket wisata, penyelenggaraan event-event bisa di destinasi-destinasi wisata. Jadi tidak hanya di hotel, restoran, tapi sekarang bisa berkembang di destinasi wisata," jelas Herry.

Sejumlah destinasi unggulan kini tengah dipoles untuk menyokong ekosistem MICE. Salah satu fokus utamanya adalah proyek revitalisasi kawasan wisata Sungai Kalimas.

"Kalau unggulan-unggulan saat ini kami sedang merevitalisasi Sungai Kalimas. Jadi dalam waktu dekat, seluruh warga Kota Surabaya dan warga Indonesia sesaat lagi akan melihat wajah baru dari Kalimas," imbuhnya.

Selain Kalimas, Pemkot Surabaya secara berkala terus mempercantik kawasan Kota Lama Surabaya guna menjaga daya tarik tempat wisata agar selalu memberikan pengalaman baru bagi para pengunjung.

"Kemudian Kota Lama juga tetap akan kita kembangkan lagi. Jadi Surabaya ini tidak puas hanya destinasi yang sudah bagus. Jadi setiap tahun atau minimal dua tahun sekali kita selalu melakukan revitalisasi," tambah Herry.

Pembenahan sarana wisata dianggap vital untuk mengimbangi kebutuhan peserta MICE yang memerlukan variasi kegiatan di luar ruang sidang.

"Jadi supaya masyarakat yang datang ke sini tidak bosan. Sama halnya dengan penyelenggaraan MICE. Orang datang ke hotel tidur, terus pertemuan setelah itu pulang," tuturnya.

Selain Kota Lama, Disbudporapar Surabaya juga mengandalkan Kebun Raya Mangrove (KRM) yang telah dilengkapi fasilitas auditorium untuk agenda pertemuan resmi, serta pengembangan berbagai kampung wisata tematik.

Sebagai pelengkap fasilitas, Disbudporapar menyusun agenda pendukung (side event) seperti keliling kota (city tour). Pemkot bahkan menyiagakan armada bus pariwisata yang siap dikolaborasikan bersama pihak pengelola hotel penyelenggara MICE.

"Jadi kita bisa berkolaborasi dengan hotel-hotel. Misalnya mereka menyelenggarakan MICE di hotel A, kemudian kita coba tawarkan menambahkan sesuatu, itu tadi paket wisata kita dengan harga yang tidak mahal misalnya," kata Herry.

Skema bundling atau paket wisata terpadu ini dirancang terjangkau agar para peserta konvensi dapat menikmati ragam keunggulan wisata Surabaya secara maksimal.

"Kita bundling dengan teman-teman yang lainnya menjadi satu paket, satu kesatuan utuh, yang mereka tidak perlu membayar mahal, tetapi bisa menikmati destinasi sekaligus dia memperoleh manfaat dari MICE tersebut," tutur Herry.

Ia berharap skema ini mampu memberikan pengalaman yang lebih berkesan bagi para delegasi MICE. "Jadi tidak hanya mereka datang rapat, tidur di hotel terus pulang," tegasnya.

Langkah penguatan MICE ini juga diselaraskan dengan pengembangan sektor ekonomi kreatif, khususnya industri kuliner lokal. Saat ini Surabaya tengah menjalani tahapan uji petik untuk penetapan resmi sebagai Kota Kuliner oleh Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf).

"Oleh sebab itu pemerintah kota hadir untuk memberikan pelayanan yang maksimal. Tidak hanya Disbudporapar, tapi seluruh PD-PD (perangkat daerah) lain di Pemkot Surabaya," pungkas Herry.