Mantan Direktur Puslitkoka: Kopi Lereng Wilis Berpotensi Ekspor dan Kantongi Indikasi Geografis

TULUNGAGUNG, BANGSAONLINE.com – Mantan Direktur Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka), Dr. Ir. Zaenudin mengatakan bahwa kopi dari kawasan lereng Gunung Wilis di Tulungagung memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk berciri khas daerah dan mendapatkan perlindungan Indikasi Geografis (IG).

Hal tersebut ia sampaikan dalam acara Talk Show dan Pameran Kopi di Lapangan Mulyosar, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung, Sabtu (1/8/2026).

Menurut Zaenudin, Tulungagung memiliki potensi pengembangan kopi yang besar, terutama di kawasan hutan sosial dan lereng Gunung Wilis, termasuk wilayah Kecamatan Sendang. Potensi ini semakin kuat karena petani kopi di Tulungagung dinilai cukup inovatif dan mampu menghasilkan kopi dengan mutu yang bagus.

“Potensi itu ada di Tulungagung, baik untuk lahan khususnya kawasan hutan sosial maupun lahan di lereng Gunung Wilis Kecamatan Sendang,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, peluang menuju pasar ekspor sebenarnya terbuka. Namun, masih ada sejumlah persyaratan yang belum banyak diketahui petani.

“Untuk menjadi kelas ekspor itu banyak syarat yang belum diketahui oleh petani, dan mungkin hanya pedagang besar saja yang mengetahuinya. Sehingga pembinaan kelompok tani melalui lembaga pemerintah daerah mungkin bisa dilakukan,” paparnya.

Zaenudin menilai kopi dari kawasan lereng Wilis berpeluang memiliki karakter yang dapat menjadi identitas daerah. Namun, diperlukan konsolidasi antarpetani agar produksi dan kualitas kopi dari berbagai lokasi dapat dikembangkan secara lebih terarah.

Ia menyarankan kopi yang berasal dari sejumlah kawasan di lereng Wilis dihimpun menjadi satu produk dengan proses produksi yang relatif seragam dan mutu yang terjaga. Lalu produk dapat diarahkan memperoleh perlindungan Indikasi Geografis melalui Masyarakat Perlindungan Geografis (MPG).

“Insyaallah bisa. Saran saya kopi yang berasal dari lereng Wilis itu kan dari beberapa lokasi dijadikan satu produk, agar jumlahnya bisa besar. Kemudian kopinya diproduksi dengan cara yang sama, dengan kualitas yang mirip dalam satu kawasan itu diberikan perlindungan Indikasi Geografis,” jelasnya.

Menurut dia, Tulungagung dapat belajar dari daerah lain di Jawa Timur yang telah memiliki perlindungan Indikasi Geografis untuk produk kopinya, salah satunya Bondowoso.

“Kalau Jawa Timur ada contoh dari kabupaten Bondowoso yang sudah ada indikasi geografis dan di beberapa tempat, kalau mau belajar praktis bisa langsung ke yang sudah ada itu. Cuma untuk membuatkan pedoman teknisnya mungkin perlu dibantu,” katanya.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Trenggalek Tulungagung, Agus Dwi Prasetyo, menyebut kawasan hutan di Tulungagung yang berpotensi untuk ditanami kopi mencapai sekitar 40.330 hektare.

Menurutnya, pengembangan kopi perlu disesuaikan dengan karakteristik bentang alam dan ketinggian wilayah. Untuk kopi arabika, misalnya, lebih sesuai dikembangkan pada ketinggian di atas 800 meter di atas permukaan laut (mdpl), sedangkan wilayah di bawahnya lebih cocok untuk robusta.

Potensi tersebut juga ditemukan di kawasan hutan Kecamatan Sendang dan di sebagian Kecamatan Pagerwojo.

Selain itu, lanjut Agus, terdapat kelompok tani binaan yang telah mengakses kawasan hutan sosial sekitar 2.303 hektare, dengan jumlah 2.397 kepala keluarga yang telah memperoleh persetujuan kehutanan sosial dari Kementerian Kehutanan.

Di kawasan tersebut, masyarakat mulai mengembangkan pola tanam yang menggabungkan kopi dengan tanaman kehutanan maupun tanaman produktif lainnya.

Agus mencontohkan Kelompok Tani Hutan Wonodadi Lestari di Desa Tenggarrejo, Kecamatan Tanggunggunung, yang menanam kopi di antara tanaman sengon, gmelina, dan alpukat. Pola serupa juga dikembangkan di kawasan Desa Besole, Kecamatan Besuki.

“Kalau dikelola hutan kemasyarakatan tanaman pohon keras minimal 50 persen, sehingga sisanya silakan ditanami tanaman yang produktif seperti durian, alpukat, kopi 30 persen dan 20 persen untuk tanaman hortikultural seperti jagung dan lainnya,” jelasnya.

Pola tersebut memungkinkan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi tanpa harus menghilangkan fungsi kawasan hutan.

Sementara itu, Ketua DPRD Tulungagung, Marsono, melihat potensi kopi di daerah tersebut masih sangat besar untuk dikembangkan. Namun, pengembangan tersebut membutuhkan koordinasi dan konsolidasi antara petani, pegiat kopi, pelaku UMKM, hingga pelaku usaha kedai kopi.

“Kita akan kawal hulu sampai hilir agar konsep tanam kopi ini bermuara pada kesejahteraan bersama, mulai dari petani, pegiat warkop, dan seluruh UMKM yang ada hubungannya dengan kopi,” katanya.

Ia mengatakan dukungan terhadap pengembangan kopi juga telah dilakukan melalui pemberian bibit kepada masyarakat. Menurutnya, sekitar 1 juta bibit kopi telah diedarkan kepada masyarakat melalui Kelompok Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat.

Bahkan, pada awal 2026, sekitar 15 ribu tanaman kopi telah ditanam di lahan seluas lima hektare di Desa Wonorejo, kawasan waduk atau lahan ruang terbuka hijau (RTH), serta lima hektare lainnya di lahan BUMDes Desa Wonorejo.

Meski demikian, Ketua DPRD menilai masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama dalam membangun komunikasi dan pendampingan antarpelaku kopi.

“Sejauh ini tidak ada kendala, hanya tingkat komunikasi saja yang belum. Bahkan secara umum seluruh Tulungagung sudah terkoneksi semua, tinggal bagaimana konsolidasi pendampingan secara utuh mulai dari dinas BRIDA, Lingkungan Hidup dan Disperindag,” bebernya.

Ia mendorong para pegiat kopi membangun komunikasi secara rutin untuk membahas berbagai jenis kopi, cita rasa, produksi hingga peluang pasar.

Menurutnya, kreativitas menjadi salah satu kunci agar kopi lokal mampu memiliki pasar yang lebih luas.

"Kalau kita kreatif di situ ada banyak varian rasa kopi. Ketika kreativitas terbangun maka pasar akan terbuka. Jadi potensi kopinya memang lokal tapi rasa global," katanya.

Zaenudin menambahkan, pengembangan kopi juga membutuhkan regenerasi petani. Sebab, perkembangan permintaan dan inovasi di tingkat konsumen berlangsung cepat, sementara sebagian petani masih cenderung menggunakan pola yang monoton.

“Harapannya untuk petani kopi jangan berhenti belajar. Kopi sekarang masih dinamis, permintaan dan inovasi di tingkat konsumen itu sangat cepat, sementara petani itu masih monoton sehingga diperlukan petani muda perlu dimotivasi agar dapat mengikuti perkembangan,” pungkasnya. (fer/msn)