MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Dunia akademis pesantren kembali mengukir catatan emas. Ahmad Najih Baehaqi, mahasiswa program doktoral (S3) Pendidikan Agama Islam Universitas KH Abdul Chalim (UAC) sekaligus awardee Beasiswa LPPD Pemprov Jatim, resmi menyandang gelar doktor dengan predikat Cumlaude usai menjalani Sidang Terbuka Senat, Kamis (30/7/2026) pagi.
Dalam sidang ilmiah berbahasa Arab yang digelar mulai pukul 09.00 WIB tersebut, Najih sukses mempertahankan disertasinya yang bertajuk “Model Pendidikan Akhlak Islami Perspektif KH Muhammad Usman Al Ishaqy: Studi Kasus di Pesantren Darul Ubudiyyah Raudhatul Muta'allimin Surabaya” (نموذج التربية الاخلاقية الاسلامية فى منظور الشيخ محمد عثمان الاسحاقي: دراسة حالة فى معهد دار العبودية روضة المتعلمين سورابيا).
Sidang terbuka ini dipimpin langsung oleh Prof. Fadly Usman sebagai Ketua Tim Penguji dengan sekretaris Dr. Zakaria. Adapun susunan dewan penguji menghadirkan jajaran pakar lintas negara, di antaranya pakar dari Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, Prof. Dr. Mohammad Ibrahim Al-Ashmawy; Prof. Ahmad Muhibbin Zuhri dari UIN Sunan Ampel Surabaya; serta Prof. Agus Sholahuddin. Sementara jajaran promotor dikawal oleh Rektor UAC Dr. KH. Mauhibur Rokhman, Lc., MIRKH., bersama co-Promotor Dr. Maulana Nurkholis, Lc., M.A.
Apresiasi dan Catatan Kritis dari Guru Besar Al-Azhar
Di balik keberhasilan meraih predikat kelulusan tertinggi (Cumlaude), dinamika pengujian berlangsung tajam dan berbobot. Prof. Dr. Mohammad Ibrahim Al-Ashmawy, Guru Besar asal Universitas Al-Azhar Mesir, memberikan beberapa catatan kritis terkait tata bahasa Arab (qawa'id) dan penyelarasan istilah teknis agar makin presisi dengan terminologi Al-Qur'an.
Meski demikian, Prof. Al-Ashmawy menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas karya ilmiah promovendus. Menurutnya, penelitian ini memuat kedalaman materi yang sangat berharga bagi dunia Islam modern.
"Disertasi ini merupakan karya akademik yang berhasil menggabungkan antara kebaruan (al-mu'asharah) dan keotentikan (al-ashalah), serta memadukan dimensi teoritis konseptual dengan praksis lapangan secara apik," tegas Prof. Al-Ashmawy di hadapan dewan penguji.
Bahkan, ulama asal Mesir tersebut secara khusus merekomendasikan agar naskah disertasi ini diterbitkan dan dijadikan rujukan wajib bagi para dai serta khatib. Nilai-nilai pendidikan akhlak berbasis tasawuf yang dirumuskan dari KH. Muhammad Usman Al-Ishaqy dinilai memiliki daya tawar solutif untuk menjawab krisis moral masyarakat muslim saat ini.
Terobosan Pionir Kampus Berbasis Pesantren
Rektor UAC sekaligus Promotor, Dr. KH. Mauhibur Rokhman, Lc., MIRKH., menegaskan bahwa pencapaian ini merupakan tonggak sejarah baru bagi perjalan akademik kampus yang dipimpinnya.
"Disertasi berbahasa Arab yang mengangkat khazanah ketokohan ulama lokal Jawa Timur ini merupakan langkah pionir. Ditambah lagi, proses jalannya sidang ujian terbuka dilaksanakan secara dwibahasa (bilingual), melibat pakar internasional. Ini bukti bahwa pesantren mampu melahirkan karya ilmiah bereputasi global," ungkap Gus Mauhib, panggilan akrab KH. Mauhibur Rokhman.
Dengan diraihnya gelar doktor ini, Ahmad Najih Baehaqi diharapkan mampu terus menggemakan pemikiran dan konsep tata nilai pendidikan akhlak ulama Nusantara, khususnya ajaran KH. Muhammad Usman Al-Ishaqy, baik di kancah nasional maupun internasional.










