Laka Maut di Kertajaya Tewaskan Pemotor, Pengemudi Mobil Diduga Anak Bos Golden Spa

Ringkasan Berita
  • Keluarga korban kecelakaan maut di Surabaya menunggu tanggung jawab dan itikad baik dari pengemudi mobil Honda CR-V, Siauw Jimmy Antonius Wijaya, yang belum memberikan penyelesaian satu pekan pasca kejadian.
  • Korban tewas, Muhammad Bilal (68), adalah tulang punggung keluarga yang bekerja sebagai sopir pribadi, meninggalkan beban ekonomi dan duka mendalam bagi keluarganya.
  • Pengemudi mobil diduga merupakan anak dari pemilik usaha Golden Dragon Spa dan Kenzo Keramik, berdasarkan informasi dari sumber yang tidak mau disebutkan identitasnya.
  • Proses hukum masih berlangsung dengan penyelidikan polisi yang memeriksa saksi-saksi untuk mengungkap penyebab kecelakaan, di mana mobil diduga berpindah lajur dan menabrak dua motor dengan kecepatan sekitar 60 km/jam.
  • Keluarga korban mengharapkan keadilan dan transparansi dalam proses hukum serta tanggung jawab dari pihak pengemudi atas kematian Bilal.

"Mereka datang hanya menyampaikan permintaan maaf, lalu pulang. Setelah itu tidak ada lagi tindak lanjut. Kami hanya ingin ada tanggung jawab dan keadilan untuk bapak," ujar Emi, putri almarhum Bilal.

Menurut Emi, kepergian ayahnya tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga beban bagi keluarga.

Bilal yang akrab disapa Pak Raden sehari-hari bekerja sebagai sopir pribadi dan menjadi tulang punggung keluarga.

Ia juga masih mengingat pesan terakhir sang ayah sebelum berangkat bekerja menggunakan sepeda motor yang dipinjam darinya.

"Bapak sempat berpesan agar saya selalu berhati-hati. Saya tidak menyangka itu menjadi pesan terakhir beliau," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Siauw Jimmy Antonius Wijaya diduga merupakan anak pemilik Golden Dragon Spa sekaligus pengusaha Kenzo Keramik.

Informasi tersebut juga dibenarkan oleh seorang sumber yang enggan disebutkan identitasnya.
"Yang nabrak itu diduga anaknya Pak Ong, pengusaha Golden Dragon Spa yang juga pemilik Kenzo Keramik," kata sumber yang meminta identitasnya tak diungkap.

Sementara itu, Kanit Gakkum Satlantas Polrestabes Surabaya AKP Supriyono mengatakan proses penyelidikan masih berlangsung.

Polisi saat ini masih memeriksa sejumlah saksi guna mengungkap secara utuh penyebab kecelakaan tersebut.

"Masih memeriksa saksi-saksi yang ada," katanya.

Keluarga korban berharap proses hukum berjalan secara transparan dan pihak pengemudi menunjukkan tanggung jawab atas peristiwa yang merenggut nyawa anggota keluarga mereka.

Sebelumnya, saksi mata di lokasi kejadian, Dedy Indira, mengatakan ketiga kendaraan semula melaju searah dari timur ke barat.

Menurut dia, mobil tersebut tiba-tiba berpindah lajur ke kiri dan menabrak dua pengendara sepeda motor.

"Awalnya bapak (pengemudi mobil) mau mendahului pindah lajur dan menabrak dua kendaraan roda dua," katanya.

Ia menambahkan, saat kejadian mobil diduga melaju dengan kecepatan sekitar 60 kilometer per jam.
"Kecepatan sekitar 60 kilometer. Sementara satu meninggal dunia dan satu luka," terangnya. (rus)