Keresahan di UINSA Meluas, Kini Giliran Forum Guru Besar Desak Menag Tangani Rektor

SURABAYA, BANGSAONLINE.com Kegelisahan atau keresahan civitas akademika Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya kian meluas. Setelah terjadi aksi demo terbuka, kini giliran Forum Komunikasi Guru Besar UINSA Surabaya menyampaikan sejumlah catatan kritis terhadap tata kelola kampus menjelang berakhirnya proses transisi kepemimpinan. Forum para profesor itu menilai momentum pergantian rektor harus dimanfaatkan untuk memperkuat tata kelola universitas dan mengembalikan iklim akademik yang sehat.

Juru bicara Forum Komunikasi Guru Besar UINSA, Prof. Dr. H. Imam Ghazali Said, menjelaskan bahwa pernyataan tersebut lahir dari diskusi intensif para guru besar yang berlangsung sejak 10–11 Juli 2026 melalui pertemuan terbatas maupun komunikasi daring.

Menurut dia, forum tidak bermaksud mempersoalkan individu tertentu, melainkan ingin memastikan bahwa proses transisi kepemimpinan berlangsung sesuai prinsip tata kelola perguruan tinggi yang baik.

"Yang kami dorong adalah evaluasi kelembagaan secara menyeluruh. Pergantian kepemimpinan merupakan momentum untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan kualitas akademik, dan membangun kembali kepercayaan seluruh sivitas akademika," ujar Ghazali.

Forum mencermati bahwa setelah berakhirnya masa jabatan rektor pada 6 Juni 2026, sejumlah jabatan strategis di lingkungan universitas masih diisi oleh pelaksana tugas (Plt). Kondisi tersebut, menurut Forum, berpotensi memengaruhi efektivitas pengambilan keputusan dan kepastian administrasi apabila berlangsung terlalu lama.

Forum, tegas Imam Ghazali,  juga menilai perlu dilakukan evaluasi terhadap capaian kinerja UINSA selama periode 2022–2026 dengan menggunakan indikator yang terukur, seperti mutu akademik, akreditasi institusi, produktivitas penelitian, publikasi ilmiah, penguatan sumber daya manusia, pelayanan mahasiswa, jejaring internasional, serta tata kelola kelembagaan.

Salah satu contoh yang disoroti adalah persoalan masa berlaku akreditasi institusi pada 2024 yang sempat menjadi perhatian sivitas akademika. Menurut Forum, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting agar pengelolaan akreditasi di masa depan dilakukan secara lebih sistematis dan antisipatif.

Forum juga menyoroti posisi UINSA dalam produktivitas publikasi ilmiah nasional. Berdasarkan data SINTA periode 2022–2025, UINSA berada pada peringkat keenam di antara UIN di Indonesia. Bagi Forum, data tersebut bukan satu-satunya ukuran keberhasilan, tetapi tetap menjadi indikator penting dalam mengukur tradisi akademik dan reputasi universitas.

Sementara itu, anggota Forum Komunikasi Guru Besar, Prof. Dr. Abd. A'la, menekankan bahwa kepemimpinan perguruan tinggi memiliki karakter yang berbeda dengan organisasi bisnis.

Menurut dia, universitas membutuhkan kepemimpinan yang mengedepankan kolegialitas, dialog, keterbukaan, dan penghormatan terhadap kebebasan akademik.

"Perguruan tinggi berkembang melalui ruang dialog, partisipasi, dan kolaborasi. Kepemimpinan akademik perlu membangun kepercayaan serta memberi ruang bagi kreativitas seluruh sivitas akademika," ujarnya.

Forum juga mencatat adanya berbagai aspirasi yang berkembang mengenai pentingnya membangun suasana kerja yang lebih kondusif serta memperkuat kohesi sosial di lingkungan kampus.

Selain persoalan tata kelola, Forum meminta adanya penjelasan resmi mengenai dasar hukum penandatanganan ijazah oleh pejabat pelaksana tugas menjelang pelaksanaan Wisuda ke-115 pada 25 Juli 2026. Penjelasan tersebut dinilai penting untuk memberikan kepastian administrasi bagi para lulusan.

Di sisi lain, Forum berharap Kementerian Agama memberikan klarifikasi mengenai dasar hukum penunjukan pelaksana tugas rektor agar tidak menimbulkan perbedaan penafsiran di kalangan sivitas akademika.

Sebagai bagian dari rekomendasinya, Forum Komunikasi Guru Besar meminta Menteri Agama segera menetapkan rektor definitif UINSA periode 2026–2030 melalui proses yang transparan, objektif, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan institusi.

Forum juga berharap rektor yang akan datang mampu memperkuat mutu pendidikan dan penelitian, menjunjung kebebasan akademik, membangun budaya organisasi yang sehat, serta merangkul seluruh unsur sivitas akademika.

"Yang ingin kami jaga adalah marwah UINSA sebagai perguruan tinggi Islam negeri yang unggul. Kritik yang disampaikan hendaknya dipahami sebagai bagian dari evaluasi kelembagaan demi kemajuan institusi, bukan sebagai persoalan personal," demikian pokok sikap Forum Komunikasi Guru Besar UINSA. (*)

 


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: