Ringkasan Berita
- BMKG mengeluarkan peringatan terkait Bibit Siklon Tropis 96W yang terpantau aktif di Laut Filipina, sebelah utara Papua. Meski peluang berkembang menjadi siklon tropis rendah, sistem cuaca ini tetap berdampak pada kondisi cuaca dan perairan Indonesia.
- Dampak tidak langsung bibit siklon meningkatkan tinggi gelombang menjadi 1,25-2,5 meter di Samudra Pasifik bagian utara Maluku hingga Papua. Gelombang tinggi berpotensi terjadi di perairan timur Indonesia.
- BMKG memprediksi potensi hujan di sejumlah wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan dipicu dinamika atmosfer aktif seperti MJO, Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin. Sirkulasi siklonik di Samudra Pasifik Utara Papua juga meningkatkan pertumbuhan awan hujan.
- Kondisi atmosfer labil mendukung terbentuknya awan konvektif yang berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang. Peningkatan awan hujan terjadi akibat daerah perlambatan dan pertemuan angin dari sirkulasi siklonik.
BANGSAONLINE.com - BMKG mengeluarkan peringatan terkait kemunculan Bibit Siklon Tropis 96W yang terpantau aktif di wilayah Indonesia. Meski peluang berkembang menjadi siklon tropis masih rendah, sistem cuaca ini diperkirakan tetap memberi dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca dan perairan nasional.
Berdasarkan pemantauan Tropical Cyclone Warning Center (TCW) hingga kemarin, Minggu (28/6/2026), bibit siklon berada di Laut Filipina, tepatnya di sebelah utara Papua, dan diperkirakan bergerak ke arah barat dalam 24 jam ke depan.
BMKG menyebut dampak tidak langsung dari bibit siklon ini adalah meningkatnya tinggi gelombang di sejumlah perairan timur Indonesia. Gelombang setinggi 1,25-2,5 meter berpotensi terjadi di Samudra Pasifik bagian utara Maluku hingga Papua.
Selain itu, BMKG memprediksi sejumlah wilayah Indonesia masih berpotensi diguyur hujan dalam sepekan ke depan. Potensi hujan dipicu oleh dinamika atmosfer aktif, di antaranya Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin.
BMKG juga mendeteksi adanya sirkulasi siklonik di Samudra Pasifik Utara Papua yang berpotensi membentuk daerah perlambatan dan pertemuan angin, sehingga meningkatkan pertumbuhan awan hujan. Kondisi atmosfer yang labil turut mendukung terbentuknya awan konvektif yang berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang. (rom)










