Menguji Nyali di Lereng Arjuno: Ratusan Warga Serbu Sensasi Gledekan Tretes Saat Libur Sekolah

PASURUAN, BANGSAONLINE.com — Musim libur sekolah menghadirkan pemandangan unik di kawasan Tretes, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Sabtu pagi (27/6/2026).

Di saat destinasi wisata modern menjamur, ratusan warga dari berbagai usia justru memilih memacu adrenalin lewat permainan tradisional khas lereng Gunung Arjuno: Gledekan.

Permainan rakyat yang memanfaatkan papan kayu beroda untuk meluncur di jalanan menurun ini dipadati oleh anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Berlatar panorama pegunungan yang asri dan udara sejuk, gledekan membuktikan bahwa kearifan lokal masih memiliki daya pikat luar biasa sebagai magnet wisata liburan.

Sejak selepas subuh, para peserta sudah terlihat berjalan kaki menuju titik start sambil memanggul papan gledekan masing-masing. Demi menjaga keselamatan dan menghindari tabrakan, petugas di lokasi menerapkan sistem antrean dan memberikan aba-aba khusus sebelum peserta dilepas ke lintasan. Keamanan pun diperketat dengan kewajiban mengenakan helm, pelindung siku, serta pelindung lutut.

Sensasi menantang ini diakui langsung oleh Dina, salah satu pengunjung yang penasaran setelah melihat keseruan gledekan di jagat maya.

"Seru sekali. Awalnya sempat takut karena jalannya menurun, tetapi setelah mencoba ternyata menyenangkan. Apalagi udaranya masih sangat sejuk," ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Angel, yang merasa ketagihan setelah mencoba meluncur langsung di trek pegunungan tersebut.

"Ini pengalaman baru buat saya. Semoga nanti bisa datang lagi bersama keluarga karena suasananya ramai dan menyenangkan," tutur Angel.

Mengingat lintasan yang digunakan merupakan akses mobilitas warga, aktivitas gledekan ini dibatasi dengan ketat. Permainan hanya diperbolehkan meluncur mulai subuh dan wajib berakhir pada pukul 07.00 WIB, sebelum jalanan kembali difungsikan penuh sebagai jalur umum.

Kapolsek Prigen, AKP Mulyono, menyatakan bahwa pihak kepolisian diterjunkan langsung ke lapangan untuk memastikan jalannya tradisi ini tetap tertib dan aman bagi pengguna jalan lain.

Menurut Mulyono, pembatasan waktu krusial dilakukan untuk meminimalkan potensi kecelakaan sekaligus menjaga roda aktivitas ekonomi masyarakat lokal tetap berjalan normal.

Ia pun berharap tradisi gledekan ini dapat terus dikemas secara profesional sebagai ikon wisata berbasis budaya di Kabupaten Pasuruan. Jika dikelola dengan standar keselamatan yang lebih mumpuni, tidak menutup kemungkinan di masa depan jalur ini akan menjadi arena kompetisi resmi bagi para pembalap gledekan profesional. (maf/rev)