Karena itu, menjelang Muktamar NU ke-35, sudah saatnya warga Nahdliyin menggeser fokus pembicaraan dari sekadar siapa yang akan memimpin menuju pertanyaan yang jauh lebih penting: ke mana NU akan diarahkan dalam lima tahun mendatang?
Sebab memilih nahkoda tanpa terlebih dahulu menyepakati arah pelayaran adalah tindakan yang berisiko. Sebaliknya, ketika arah sudah jelas, maka organisasi akan lebih mudah menemukan pemimpin yang tepat untuk mengantarkannya menuju tujuan.
BACA JUGA:Singgung Peran NU, Kiai Asep: Kita Punya ITS dan ITB Tapi Tak Bisa Buat Motor, Apalagi Rudal
Muktamar sebagai Forum Peradaban
Muktamar adalah forum tertinggi organisasi. Ia bukan sekadar mekanisme pergantian kepemimpinan, tetapi ruang untuk melakukan refleksi, evaluasi, dan perumusan agenda masa depan.










