Para petani jeruk bersama kuasa hukum menunjukkan surat hasil lapor dari Polres Malang.
MALANG, BANGSAONLINE.com – Para petani jeruk di wilayah Poncokusumo Malang, melaporkan Wahyu Sulistiono, selaku tengkulak jeruk ke Polres Malang atas dugaan penipuan berkedok tebas borong.
Laporan terdaftar dengan nomor LP/B/436/XI/2025/SPKTPOLRESMALANG/POLDA JATIM. Pelaporan didorong oleh kekecewaan dan kerugian material yang dialami para petani selama bertahun-tahun akibat janji palsu pembayaran hasil panen.
BACA JUGA:
- Polres Malang Tetapkan 4 Pelaku Pengeroyokan dan Pengrusakan Mobil Wisatawan Asal Surabaya
- Pengeroyokan Wisatawan Asal Surabaya oleh Aremania, 24 Orang Diperiksa Polisi
- Modus Pura-Pura Razia, Polisi Gadungan Rampas HP Pelajar di Malang
- Pria di Malang Ditangkap Usai Diduga Begal Mobil dengan Modus Polisi Gadungan
Korban, Supriyanto, warga Pandansari, bersama tiga saksi korban lainnya Muhamad Sholeh, Eka Fatmanto, dan Suremi mendatangi Polres Malang dengan didampingi kuasa hukum. Mereka membeberkan modus operandi terlapor yang sistematis dan merugikan.
Supriyanto menjelaskan, modus yang dilakukan adalah tebas borong hasil panen jeruk. Dalam praktiknya, terlapor akan memberikan uang muka atau deposit yang kecil. Sisa pembayaran dijanjikan akan dilunasi dalam tempo singkat, seringkali hanya dalam hitungan jam setelah panen, atau dijanjikan langsung ditransfer pada sore hari.
“Kenyataannya, pembayaran itu tidak pernah lunas. Kami hanya diberikan janji-janji palsu. Ada yang dibayar dicicil sedikit-sedikit, tapi banyak yang tidak dibayar sama sekali, bahkan sampai bertahun-tahun,” ungkap Supriyanto dengan nada kecewa, Jumat (28/11/2025).
Kuasa hukum para korban, Hertanto Budhi Prasetyo, menegaskan bahwa kerugian yang diderita kliennya sangat signifikan. Secara keseluruhan, kerugian para pelapor yang tercatat sudah mencapai ratusan juta rupiah.
Namun ini hanya segelintir korban. Berdasarkan perhitungan sementara dari data yang dikumpulkan dari sepuluh korban, total kerugian material diperkirakan tembus satu miliar rupiah lebih.
“Dan kami yakin, korban di luar kelompok ini masih banyak di wilayah Poncokusumo dan sekitarnya,” jelas Hertanto.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




