Kegiatan Wisuda Sarjana V Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU)
"Setelah wisuda tidak bisa lagi menyebut diri sebagai anak mama dan papa. Tapi inilah saya," tegas Luthfi.
Rektor mengajak seluruh yang diwisuda untuk berdiri dan mengucap ikrar bersama. Bunyi ikrar itu:
"Inilah saya alumni IAINU Tuban. Saya bangga menjadi sarjana NU, saya adalah berkah bagi bangsa negara dan alam semesta"
"Untuk sampai bisa teriak inilah saya, maka jangan lupakan masa lampau, banyak peran orang-orang yang mendukung Anda. Pertama ortu, lalu dosen tenaga pendidik dan seluruh pengelola IAINU, serta seluruh pendiri, krn dari beliau-beliaulah saat ini kita ada di sini," kata Luthfi.
Pria kelahiran Lamongan itu juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh wali mahasiswa yang telah mempercayakan dan mempercayai IAINU Tuban menjadi tempat menitipkan anak-anaknya untuk menempuh pendidikan.
Wisuda dengan simbol memindah kuncir toga dari kiri ke kanan, lanjut Luthfi, mempunyai maksud bahwa manusia punya 2 otak kiri dan otak kanan.
Otak kiri biasa digunakan untuk hal-hal yang logis, berfikir yang teratur dan belajar berfikir logis. Selama perkuliahan juga untuk memenuhi otak kiri. Maka ketika dipindah ke otak kanan maka harus kreatif dan progresif.
Kembali ke masyarakat adalah memasuki universitas kehidupan yang tidak lagi mengandalkan pengetahuan, tapi kreatifitas dan progresifitas.
Maka setelah diwisuda, saatnya kreatif dan progresif. Bermasyarakat tak bisa hidup sendiri, harus berkelompok, berserikat atau berorganisasi. Dalam organisasi mengedepankan musyawarah meski bebas perpendapat.
Boleh berbeda pendapat, tapi kalau sudah ada ada keputusan, maka harus diamankan dan dilaksanakan.
Jangan karena kalah musyawarah dan diskusi jadi mutung. Menurut Luthfi itu tidak islami. Keputusan haru dilaksanakan. Yang wajib melaksanakan pertama adalah yang pendaptnya berbeda.
Luthfi menegaskan, lulusan IAINU Tuban, harus berkarakter, karena itu adalah kunci sukses. Saat ini menurut Luthi perusahaan-perusahaan tidak merekrut karyawan karena berapa IP nya.
Namun yang diprioritaskan adalah karakter, apakah bisa berkerjasama dengan orang lain apa tidak. Tahan banting apa tidak, ulet atau tidak.
Kalau hal ini dikembangkan maka kesuksesan akan mengikuti. Untuk sukses setidaknya ada 3 hal yang harus dimiliki. Yakni pengetahuan atau pengalaman, kompetitif, dan harus berani melangkah dan mempunyai kreatifitas yang luar biasa.
"Maka harus the best, kalau the best maka kehidupan yang akan mencari Anda, bukan Anda yang mencari kehidupan," tandasnya.
Sedangkan Dr. Mujib Ridwan yang mewakili PCNU Tuban dan BPP IAINU Tuban memberi tantangan pada rektor agar bisa mengubah IAINU Tuban menjadi universitas.
Dia melihat saat ini IAINU sudah berkembang sangat bagus. Karena itu, PCNUdan BPP IAINU memberikan apreasiasi.
"PCNU memberi apresiasi, tadi PCNU dan BPP sudah rasan-rasan, agar rektor tidak pergi dulu. Boleh pergi tapi syaratnya IAINU harus berubah jadi universitas dulu. Jangan lama-lama," ucapnya.
Kalau kurang doktor, saat ini dan guru besar, kata dia, bisa diselesilkan. Karena Mujib memberi target akhir 2025 nanti sudah bisa universitas. Saat ini sudah banyak dosen yang calon doktor.
"Karena itu, saya optimis akhir 2025 bisa jadi universitas. SDM segera bisa diunduh, juga masih muda-muda sehingga bisa diajak lari cepat. Kenapa penting ini? Karena Jatim akan dipecah. Wilayah utara seperti Gresik, Lamongan, Bojoneoro dan Tuban belum ada ada kampus negeri, maka ada potensi bisa jadi kampus besar," tutupnya. (coi/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




