"Misalnya bagaimana bisa mengamati perkebunan sawit, melihat kebakaran hutan dan mengukur sawah yang akan panen," ujar Handoko.
Namun, saat ini kebutuhan akan data citra satelit Indonesia masih membeli dari pihak lain dengan harga yang cukup besar yakni Rp 475 miliar tiap tahun.
"Lebih baik Rp 475 miliar itu untuk investasi bangun satelit dan jualan data. Jadi sebenarnya secara finansial tidak terlalu muluk-muluk, yang dibutuhkan minimal enam satelit remote sensing yang kombinasi berbasis optikdan juga berbasis radar," jelas Handoko.
Sementara itu, Donny Ermawan Taufanto selaku Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan mendukung pentingnya teknologi antariksa bagi system pertahanan negara.










