Aksi demo guru dan siswa SMAN 1 Taruna Madani, Bangil, beberapa waktu lalu. Foto: SUPARDI/ BANGSAONLINE
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Pernyataan Kepala SMAN 1 Taruna Madani Imron Rosadi terkait faktor diskriminasi sebagai penyebab demo yang dilakukan siswa reguler dan para guru, mendapat tanggapan dari alumni SMAN 1 Bangil. Sekadar diketahui, SMAN 1 Taruna Madani dulunya adalah SMAN 1 Bangil.
Choiril Muchlis, koordinator alumni SMAN 1 Bangil, menyatakan dalih Imron Rosadi bahwa demo tersebut disebabkan adanya diskiriminasi antara siswa reguler dan siswa baru adalah bohong besar.
BACA JUGA:
- FLS3N Kota Pasuruan Jadi Wadah Kreativitas dan Literasi Anak
- Educampus Expo 2026, Lia Istifhama dan Dindik Jatim Ajak Siswa Produktif dan Kurangi Gadget
- Lia Istifhama Apresiasi Respons Cepat Jatim Soal Pembatasan Medsos Anak, Tekankan Literasi Digital
- Pelantikan Rektor Unmer 2026-2030, Wali Kota Pasuruan Tekankan Investasi SDM
"Pernyataan di sini bahwa kejadian kemarin (pasca demo) itu dipicu karena siswa merasa diperlakukan diskriminasi, ini adalah bohong besar, penggiringan opini yang pada akhirnya mendiskreditkan siswa reguler," cetus Muchlis.
Ia menegaskan pernyataan Imron tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Kacabdin Wilayah Pasuruan.
"Yakni, tidak ada diskriminasi dan siswa siswi Taruna Madani selalu koordinasi dengan kakak kelas reguler. Hal inilah yang sangat menarik," ungkapnya.
Muchlis menyatakan dalam demo tersebut tidak ada protes satu pun dari siswa terkait diskriminasi antara siswa reguler dengan siswa taruna madani.
"Tidak ada satu pun poster yang menuntut terkait perlakuan diskriminatif, misal 'jangan anak tirikan aku', 'Jangan beda-bedakan kami', dan sebagainya," ujarnya.
"Kedua, ada rekaman saat demo di halaman belakang siswa taruna sebagian besar ikut yel-yel juga. Artinya, mereka turut mendukung demo tersebut," katanya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




