Para tuan guru, pengasuh pesantren, dan pengurus NU dalam acara bedah buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan karya M Mas'ud Adnan di Pondok Pesantren Manhalul Maarif, Darek, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Kamis (16/2/2023). Foto: M Mas'ud Adnan/bangsaonline.com
Para tuan guru peserta bedah buku itu tampak semakin antusias. “Karena itu saya datang ke semua porivinsi seluruh Indonesia untuk berbagi pengalaman agar masyarakat juga punya kesadaran tentang peningkatan ekonomi. Hanya Papua yang belum. Tapi Pergunu sudah berdiri dari Papua Selatan. Bahkan Pergunu lebih dulu dari NU. Sampai sekarang NU belum ada di Papua Selatan,” tegas Kiai Asep sembari tersenyum yang disamput tawa para tuan guru.
Para tuan guru pun berebut mengacungkan tangan ketika dibuka sesi tanya jawab. Bahkan Supardi, seorang tuan guru muda yang disebut-sebut sebagai mantan penganut Wahabi juga berebut mengacungkan tangan. Ia minta amalan doa kepada Kiai Asep agar bisa sukses dan kaya. Ia bahkan ingin mengalahkan Kiai Asep.
"Kalau bisa saya akan mengalahkan Kiai Asep," katanya yang disambut tawa para tuan guru yang lain.
Dan yang juga menarik ia berjanji akan istiqomah menganut ajaran agama ahlussunnah waljamaah NU seperti yang diajarkan Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari.
”Saya disebut sebagai penganut Wahabi. Tapi sekarang semoga saya terus istiqomah di NU sampai hari kiamat,” kata pria yang mengaku punya pondok pesantren dan punya lahan baru senilai Rp 3 miliar.
Kiai Asep langsung mengijazahkan doa: Hasbunallahu sayu’tinallahu minfadlihi warasuluhu inna ilallahi roghibun. “Dibaca 10 kali sehabis salat Subuh dan salat Ashar,” kata Kiai Asep.
“Kenapa habis Shubuh dan Ashar? Karena pada saat itulah ada pergantian malaikat yang bertugas di bumi. Yang bertugas di bumi belum naik. Sedangkan malaikat dari langit sudah turun. Sehingga malaikat yang bertugas siang dan malam sama-sama ikut mengamini doa kita,” kata Kiai Asep.
Dulu, sebelum kaya, Kiai Asep mengaku baca doa itu dalam jumlah ribuan tiap hari. “Selama tiga bulan. Tapi setelah kaya, saya tidak lagi,” kata Kiai Asep sembari tertawa. Maksudnya, setelah kayak tidak mengamalkan dalam jumlah ribuan tiap hari.
Kiai Asep juga bercerita bahwa ia sukses setelah mengamalkan salat malam 12 rakaat dengan 6 kali salam (setiap dua rakaat salam) plus salat witir 3 rakaat dengan dua kali salam. “Sebelumnya saya banyak baca-baca buku dan kitab tentang salat hajat. Tapi setelah saya laksanakan tak ada hasilnya akhirnya saya ganti. Sampai akhirnya saya menemukan doa dan salat malam ketika saya membaca kitab Ihya Ulumiddin, karya Imam Ghazali. Saat itu saya di Arafah menunggu waktu wuquf,” tutur ketua umum Pimpinan Pusat (PP) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.
Menurut Kiai Asep, ketika menemukan referensi salat hajat dalam kitab Ihya Ulumiddin itu hatinya sangat yakin. “Judulnya Add’a alladzi la yuraddu. Doa yang tak akan ditolak oleh Allah SWT. Wah, saya sangat yakin sekali,” kata Kiai Asep.
Apalagi dalam kitab itu ada narasi yang mengingatkan agar doa dan salat malam itu jangan sampai diajarkan pada sembarang orang. “Karena saking istijabah, meski untuk tujuan maksiat doa itu akan tetap terkabul. Wah, saya semakin yakin,” kata Kiai Asep.
Karena itu Kiai Asep juga mengingatkan agar jangan sampai diijazahkan kepada orang lain. “Karena kalau diijazahkan kepada orang lain dan digunakan untuk maksiat, kita juga kena getahnya, ikur berdosa,” katanya.
Kiai Asep lalu membacakan doa yang harus dibaca sesuai salat hajat 12 rakaat tersebut. Do aitu ditulis secara lengkap di bagian akhir buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan, karya M Mas’ud Adnan itu.
Acara bedah buku yang diikuti 200 lebih tuan guru pengelola pondok pesantren dan pengurus NU di kediaman Rais Syuriah PCNU Lombok Tengah, Tuan Guru Ma’arif Makmun itu memang sangat istimewa. Selain para tuan guru sangat antusias juga berlangsung 4 jam lebih tanpa jeda.
Hebatnya lagi, meski acara sudah usai mereka tak langsung pulang. Mereka malah antre minta barokah Kiai Asep dengan cara minta menandatangi buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan. Sampai Kiai Asep tampak lelah karena harus menandangani satu persatu.
Pantauan BANGSAONLINE, Kiai Asep dua kali menyetop peserta yang minta tanda tangan karena capek. Tapi mereka terus mengejar Kiai Asep sampai ke tempat istirahat di kediaman pribadi Tuan Guru Maarif Makmun.
Selain Kiai Asep yang jadi pembicara dalam bedah buku itu juga M Mas’ud Adnan, penulis buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan dan Muhammad Ghofirin, dosen Univeristas Nahdlatul Ulama (UNU) Surabaya. (MMA).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




